PONTIANAK—Dewan Pers Republik Indonesia bekerjasama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menggelar Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Survei Indeks Kemerdekaan Pers Provinsi Kalimantan Barat tahun 2018. Kegiatan FGD ini diikuti oleh beberapa informan ahli dari kalangan sipil/aktivis/NGO, pelaku media, ASN, kepolisian, dan akademisi. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Firdaus Achmad, M.Hum, pada Sabtu (01/09) di Orchadz Hotel Gajahmada, Pontianak. Tampak hadir Anggota Dewan Pers Republik Indonesia, Hendry Chairudin Bangun serta Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Pontianak, Dr. Ismail Ruslan, M.Si.

Koordinator Tim Peneliti Kalbar yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Acan Mahdi, M.Si mengungkapkan jika FGD ini merupakan tahapan yang dilalui untuk menilai indeks kemerdekaan pers di Provinsi Kalimantan Barat. “Kita belum memiliki data yang valid mengenai indeks kemerdekaan pers di Kalimantan Barat. Oleh karena itu, kegiatan ini ingin mengetahui angka maupun indeks kemerdekaan pers itu sendiri. Tahun lalu kita memperoleh skor 77,4 dan menjadi peringkat III se-Indonesia. Tahun ini kami berharap kepada 12 informan ahli yang terlibat dalam FGD untuk berdiskusi sekaligus mengisi kuesioner terbaru kaitannya dengan indek kemerdekaan pers di Kalimantan Barat.” ungkapnya.

Anggota Dewan Pers Republik Indonesia, Hendry Chairudin Bangun menjelaskan bahwa FGD ini merupakan sarana konfirmasi kepada pelaku media, aktivis, ASN, kepolisian, dan akademisi yang secara tidak langsung melihat maupun memotret indeks kemerdekaan pers itu sendiri. “Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Kami mewakili Dewan Pers mengucapkan terima kasih atas kerja keras IAIN Pontianak dalam menyukseskan kegiatan ini.” ucapnya.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Firdaus Achmad, M.Hum turut mengucapkan terima kasih atas kerjasama dan kepercayaan Dewan Pers Republik Indonesia kepada IAIN Pontianak. Menurutnya kerjasama ini dapat memberikan nilai yang sangat tinggi kaitannya dengan akreditasi perguruan tinggi.

Ia menambahkan jika pers merupakan salah satu instrument kehidupan sosial yang mencoba untuk menunjukkan ekspresi kemerdekaannya. Walau dalam kenyataannya kemerdekaan pers berbenturan oleh kemerdekaan orang lain. “Kawan-kawan pers kita istilahkan sebagai jendela kebenaran yang interpretatif. Jika jendela kebenaran itu ditutup, maka kebenaran itu tidak akan pernah sampai dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya, jika jendela kebenaran itu dibuka, maka kebenaran itu menjadi hak semua orang dan itulah kesejatian dari kemerdekaan yang sesungguhnya.” urainya.

Penulis: Septian Utut
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here