Akhir tahun 2016, bertepatan pada hari Jum’at tanggal 30 Desember 2016, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menggelar Dialog Kebangsaan dengan tema, “Mengukuhkan Nilai-Nilai Kebangsaan dalam Bingkai NKRI” di Auditarium Syekh Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak. Dialog kebangsaan ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Herviani, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Hymne IAIN Pontianak.”

Rektor IAIN Pontianak yang diwakili oleh Wakil Rektor I IAIN Pontianak, Dr. H. Hermansyah, M.Ag. memberikan sambutan dan sekaligus membuka kegiatan Dialog Kebangsaan ini secara resmi. Sebagai pengantar dalam sambutannya, Warek I menekankan bahwa tugas kita sebagai warga Negara Indonesia semakin berat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tantangan dan ancaman yang timbul semakin hari semakin besar, kuat dan sangat mengkhawatirkan Bangsa Indonesia.

Selanjutnya, Warek I menyampaikan beberapa hal dalam konteks kebangsaan untuk menjaga keutuhan NKRI. Pertama adalah ancaman dan tantangan dari dalam (internal). Warek I menitikberatkan kepada sikap internal keagaman dalam menyikapi perbedaan pemahaman keagaman. Terdapat perpecahan umat Islam karena perbedaan pemahaman internal keagamaan.“Kadang-kadang kita bisa toleran dengan orang yang berbeda agama, tetapi terkadang kita tidak bisa toleran dengan perbedaan aliran dalam internal agama kita sendiri,“ paparnya.

Ancaman sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa, selama kita bisa menghargai perbedaan itu secara arif. Perbedaan itu tidak mungkin kita hidari, karena tidak ada ototritas tunggal dalam menafsiri agama pada saat ini. Tidak ada cara lain selain kita menghargai perbedaan-perbedaan itu sendiri,” tegas Warek I.

Kedua adalah ancaman dan tantangan dari luar (eksternal). Dalam menjelaskan faktor eksternal ini, banyak hal yang mendapatkan perhatian khusus oleh Warek I. Istilah yang digunakan oleh Warek I untuk menjelaskan faktor eksternal ini adalah proxy war, yaitu perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti perkelahian secara langsung. Di antaranya proxy war tersebut adalah serbuan narkoba, barang ilegal, pekerja asing masuk di Indonesia, perdagangan dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dalam menjelaskan proxy war tersebut, Warek I memberikan contoh serbuan barang-barang dari luar negeri dengan tujuan untuk menghancurkan perekonomian di Indonesia. “Di Vietnam harga beras adalah 7.000, kemudian mereka menjual di importir kita (Indonesia) seharga 4.000. Di antara maknanya adalah dalam rangka untuk menghancurkan pertanian padi kita, supaya petani kita tidak mau menanam padi. Tetapi setelah tidak ada lagi petani yang menanam padi, maka akan datang serbuan beras dari luar dengan harga yang mahal. Berapapun harganya kita akan beli, karena merupakan bahan pokok kita.” Jelas Warek I.

Untuk menghadapi tantangan dan ancaman tersebut, solusi yang diberikan oleh Warek I adalah memperkuat diri kita sendiri secara internal sebagai sebuah negara. Warek I yakin, apabila kita kuat secara internal, apapun serbuan yang datang kepada kita, itu tidak akan menjadi masalah bagi bangsa ini. Adapun yang jauh lebih penting menurut Warek I adalah kita mengurus kita sendiri untuk menjadi bangsa yang kuat dan siap menghadapi berbagia keadaan. Inilah yang disampaikan oleh Warek I kepada para peserta untuk meningkatkan dan memantapkan wawasan kebangsaan.

Dialog kebangsaan ini menghadirkan tiga nara sumber. Mereka ialah Direktur Center for Acceleration of Inter-Religious and Ethnic Understanding (CAIREU) IAIN Pontianak, Eka Hendry AR, S.Ag., S.Pd., M.Si.; Pangdam XII Tanjungpura yang diwakili oleh Mayor Inpantri Rustam Effendi Hasibuan, M.Ag. dan Kapolda Kalimantan Barat yang diwakili oleh Kabiro Humas Kombespol Suhardi SW, S.H., M.Si. Ketiga nara sumber merupakan representasi yang pas dan tepat untuk dijadikan sebagai acuan dalam menghadapi problem-problem kebangsaan dan mendapatkan antusias lebih dari 200 peserta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here