PONTIANAK (iainptk.ac.id)—Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IAT) FUAD IAIN Pontianak bekerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar Workshop Manuskrip Al-Qur’an Nusantara, Kamis (20/9/2018) di Auditorium Abdul Rani Mahmud. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor IAIN Pontianak, Dr. H. Syarif, MA.

Hadir selaku narasumber dalam kegiatan tersebut Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Dr. H. Muchlis M. Hanafi, MA, Dr. Ismail Ruslan, M.Si, Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag, H. Zarkasi, MA, dan Ahmad Jaeni, MA.

Dekan FUAD IAIN Pontianak, Dr. Ismail Ruslan, M.Si menjelaskan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen FUAD IAIN Pontianak dalam rangka memfasilitasi kebutuhan mahasiswa sekaligus meningkatkan kompetensi di bidangnya. “FUAD berkomitmen dalam setiap kegiatan tidak sekedar menjadi ‘Wayang DIPA’, namun lebih dari itu kegiatan hari ini merupakan bukti ikhtiar kita bersama dalam rangka mendorong mahasiswa untuk berprestasi di bidangnya. Mudah-mudahan apa yang kami ikhtiarkan ini dapat menjadi bakti serta amal sholeh yang bermanfaat bagi kita semua.” paparnya.

Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Dr. H. Muchlis M. Hanafi, MA mengungkapkan Lajnah Pentashihan Muhsaf Al-Qur’an merupakan satuan kerja di Litbang Kementerian Agama RI yang kehadirannya tidak dapat dilepaskan dalam porsinya untuk menjaga kesucian Al-Qur’an.

“Kami fokus dalam melakukan kajian-kajian terhadap naskah keagamaaan terkait mushaf kuno. Kurang lebih 430 naskah dari seluruh penjuru Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam telah didigitalisasi. Salah satu mushaf kuno yang terindah berada di Pontianak. Oleh karenanya kami berterima kasih atas terjalinnya kerjasama ini. Semoga ke depan kerjasama ini dapat ditindaklanjuti dengan serangkaian program yang intinya untuk melestarikan dan menjaga kesucian Al-Qur’an.” terangnya.

Sementara itu Rektor IAIN Pontianak, Dr. H. Syarif, MA mengatakan workshop ini merupakan kegiatan yang sangat urgen dan berguna bagi akademisi dan mahasiswa. “Kegiatan ini sangat penting terutama tentang output yang dapat direkomendasikan menjadi bagian pertimbangan institut dalam mengambil kebijakan kaitannya riset maupun penelitian tentang manuskrip.” tuturnya.

Rektor menambahkan jika riset atau penelitian IAT harusnya berfokus pada kajian Al-Qur’an, tafsir, maupun manuskrip. “Mahasiswa IAT harus fokus melakukan riset tentang Al-Qur’an, tafsir, maupun manuskrip yang nantinya dapat berguna bagi khazanah Islam dan ummat. Jangan meneliti hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan bidangnya.” tegasnya.

Penulis: Septian Utut
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here