LP2M IAIN Pontianak untuk kesekian kalinya melaksanakan Program Unggulan Institut yakni Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Mandiri bekerjasama dengan Hikmah Sarawak Malaysia Tahun 2018 mulai 10 Mei s.d. 7 Juni 2018. Kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan ini diikuti oleh 63 peserta dari 8 perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia. Perguruan tinggi yang dimaksud, antara lain, IAIN Palopo 7 orang, UIN Sunan Ampel Surabaya 10 orang, IAIN Bone 5 orang, IAIN Palangkaraya 5 orang, UIN Banjarmasin 8 orang, STIT Al-Iqra’ Putussibau 2 orang, IAIN Kerinci 6 orang, IAIN Pontianak 20 orang.

Ketua LP2M IAIN Pontianak, Drs. H. Marsih Muhammad, M.Ag mengungkapkan jika peserta akan diberangkatkan hari Kamis (10/5) pukul 20.00 WIB. Waktu kegiatan diperkirakan seminggu sebelum puasa dan pulangnya seminggu sebelum lebaran. Ia menambahkan, kerjasama IAIN Pontianak dan Hikmah Sarawak Malaysia tidak terbatas, karena disana masih banyak titik perbatasan yang masih bisa diexplore. Apalagi disana masih kekurangan SDM untuk membina mualaf. Oleh karena itu, ia berharap kerjasama ini akan dilakukan terus menerus dan mengalami peningkatan yang signifikan dalam hal apapun.

Lebih lanjut ia berharap mudah-mudahan PPM tahun ini berlangsung lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Ia meminta kepada seluruh peserta untuk pandai-pandai dalam bersikap dan bersosialisasi dengan masyarakat karena kultur Malaysia berbeda dengan Indonesia.

Plt. Rektor IAIN Pontianak, Dr. Syarif, MA menjelaskan jika program ini bisa menjadi bahan berkualitas untuk borang akreditasi institut maupun lembaga. Ia pun berharap semoga dengan adanya program ini bisa membuka pemahaman pihak pusat dalam menginisiasi Surat Perjalanan Dinas Internasional bagi mahasiswa, dosen, maupun pejabat IAIN Pontianak.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan jika IAIN Pontianak memiliki program tanggap perbatasan. Salah satu program unggulan yang dimiliki LP2M IAIN Pontianak yaitu PPM Mandiri Tanggap Perbatasan. Program unggulan lainnya yang dimiliki oleh LP2M IAIN Pontianak yaitu Program Kampung Riset dan Desa Binaan. Program ini sangat menarik jika ‘dijual’ kepada Pimpinan PTKIN di pusat maupun seluruh Indonesia.

Selain itu ia pun memaparkan tentang kondisi keberagamaan di Malaysia khususnya Sarawak. Menurutnya, nantinya peserta akan berhadapan dengan kultur yang berbeda. Kecenderungan di Malaysia anti Wahabi dan Syiah. Oleh karena itu ia mengharapkan kepada seluruh peserta agar tidak membawa perdebatan-perdebatan yang dapat memunculkan konflik berkepanjangan. Peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini merupakan agen negara yang harusnya me-reform Islam moderat yang menjadi ciri khas Indonesia selama ini.

“Jadikan program ini sebagai pengalaman. Jaga nama baik institusi dan Indonesia. Sebarkan dengan positif etika dan budaya kebaikan Indonesia. Selamat berjuang melaksanakn program ini hingga selesai. Kami mendoakan yang terbaik. Terima kasih atas kerjasama dari bapak ibu sekalian dari perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam kegiatan ini.” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here