komitmenKegiatan Refreshment Asesor Kerjasama FTIK (Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kegurun) IAIN Pontianak dengan FTIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang digelar pada hari Sabtu, 19 Juli 2014 bertempat di Restoran Beringin, menghadirkan Maifalinda Fatra, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kegiatan ini, dikatakan Maifalinda Fatra, berangkat dari keyakinan bahwa LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan) memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia yang memiliki daya saing dan berkarakter.

Menurutnya, kualitas pendidikan dan pelatihan LPTK perlu ditingkatkan. Kegiatan pendidikan dan pelatihan di bawah naungan Kementerian Agama semestinya menjadi tanggung jawab LPTK di bawah naungan Kemenag.

Maifalinda Fatra menjelaskan, dengan diterapkannya kurikulum 2013 oleh Kemendikbud, maka LPTK di bawah Kemenag mau tidak mau kita juga harus dapat menyosialisasikan dan mengimplementasikan kurikulum 2013 itu dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan guru-guru di lingkungan madrasah/pesantren di bawah Kemenag.

Pesan moral yang disampaikan oleh Direktur dan juga pihak Kemendikbud, bahwa pada PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) tahun 2014 segala kegiatan yang ditujukan untuk guru yang menyangkut pelatihan, harus berimplikasi positif pada guru, mulai dari awal sampai evaluasi pembelajaran. Semuanya harus sesuai dengan kepentingan kurikulum 2013, lanjut dia.

Seperti kemitraan sebelumnya, LPTK UIN Jakarta dengan LPTK yang ada di Pontianak telah berlangsung lama khususnya dalam hal pelaksanaan PLPG. Namun, karena komunikasi terbatas atau ada sebab lain, kemitraan LPTK di Jakarta dan LPTK yang ada di Pontianak ini dirasakan belum begitu maksimal.

Karena itu, Maifalinda Fatra berkeyakinan untuk ke depan, kemitraan ini mesti diperkuat. Pembinaan guru-guru di madrasah adalah tanggung jawab penuh LPTK-LPTK yang ada di bawah Kemenag, bukan yang lain. Kecil peluangnya Kemendikbud melakukan pembinaan pada guru-guru di lingkungan Kemenag mengingat mereka punya tanggung jawab dan wilayah kerja sendiri.

“Untuk peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan, kemitraan antara LPTK mesti diperkuat, bukan dalam kegiatan PLPG saja tetapi dalam kegiatan-kegiatan lain. Perlu dilakukan kerjasama-kerjasama sehingga terbentuklah semacam model pelatihan” ungkap Maifalinda Fatra.

Dia menuturkan perlu adanya inovasi dalam kegiatan ini, ke depan akan didiskusikan tentang teknis dan konten pelatihan pada PLPG. Pada tahun 2014 ini program PLPG semua sudah berbasis ITP, penjadwalan, dosen, peserta administrasi diinput ke dalam program ASG.

Maifalinda Fatra mengakui, berangkat dari evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya, masih banyak guru-guru yang mengikuti PLPG belum memenuhi kualitas standar yang diinginkan, kualitas PLPG harus ditingkatkan. Jangan sampai setelah PLPG, masih banyak guru-guru tidak lulus.

Hal ini diamini oleh Rektor IAIN Pontianak, Dr. H. Hamka Siregar, M.Ag. Menurut Hamka, kegiatan ini semacam penguatan. Karena itu besar harapan kegiatan ini dapat berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan seperti yang diharapkan.

Hamka mengingatkan bahwa kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diadakan oleh LPTK, bukan saja soal transfer ilmu pengetahuan pada guru-guru tetapi juga tentang bagaimana guru-guru dapat menjadi teladan.

Hal inilah yang harusnya menjadi ciri khas dari pelatihan di lingkungan Kemenag. Rektor IAIN Pontianak menyebut, hidup ini ada nilai-nilai barakahnya. Apalah artinya pengetahuan bertambah tapi barakahnya tidak ada.

Dia menuturkan kenapa belakangan ini pendidikan kurang dirasakan manfaatnya. Hamka mencontohkan bagaimana murid tidak menganggap penting bertemu dengan guru dalam belajar, cukup download materi saja, mereka anggap itu sudah cukup. Inilah yang dimaksudkannya ilmu sudah kehilangan barakah. Karena itu, peran pendidik penting bukan hanya dalam konteks mentransfer ilmu tapi sebagai teladan.

“Guru yang menyampaikan sekaligus harus menjadi contoh. Jangan sampai pendidikan kita kehilangan barakah dan jauh dari prinsip-prinsip pendidikan karakter. Untuk itu, guru juga harus memperbaiki karakternya agar dapat berperan positif dalam pendidikan. Agama nyata dalam tindakan dan praktik bukan hanya sekedar wacana”, tegas Hamka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here