Pertemuan Warek I

Forum Wakil Rektor dan Pembantu Ketua I PTKIN se-Indonesia menggelar pertemuan lanjutan di IAIN Pontianak pada tanggal 13-15 Oktober 2014. Pada pertemuan tersebut mengagendakan pembicaraan mengenai kurikulum KKNI, dan persoalan internasionalisasi lembaga.

Dr. Muhammad Zaenuddin, Sekretaris Forum Wakil Rektor I PTKIN se-Indonesia, mengatakan, Forum ini dibentuk dalam rangka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan akademik baik itu pengajaran, pendidikan, dan penelitian serta kelembagaan.

Menurutnya, Forum Wakil Rektor I punya tanggung jawab untuk merespon persoalan yang berhubungan dengan akademik, dan kelembagaan. Pada masing-masing Warek dan Puket I PTKIN selalu menterjemahkan apa yang menjadi kebijakan dari Kementerian Agama RI.

“Untuk lebih menyatukan pemikiran dalam menyelesaikan berbagai masalah di tingkat perguruan tinggi, para Wakil Rektor yang tergabung dalam Paguyuban Wakil Rektor ini, selalu mengagendakan rapat koordinasi yang berpindah-pindah dari satu perguruan tinggi ke perguruan tinggi lainnya”, ungkap Muhammad Zaenuddin.

Melalui pertemuan ini antara PTKIN dapat saling memberikan informasi penting dan membincangkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Peserta akan duduk bersama guna menyatukan pandangan seputar isu-isu terbaru di bidang pendidikan, pengajaran dan penelitian, selanjutnya akan disampaikan sebagai bahan masukan ke Direktur Diktis Kemenag RI.

Pertemuan Warek I#2Pada pertemuan kali ini, IAIN Pontianak didaulat selaku tuan rumah. Acara pembukaan yang dilaksanakan di rumah dinas Wakil Walikoto Pontianak, Edi Kamtono, mengucapkan selamat datang kepada para Wakil Rektor dan Pembantu Ketua I PTKIN se-Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Edi Kamtono berbagi cerita tentang banyak hal mengenai Kota Pontianak, tidak terkecuali wisata kuliner dan warung kopi yang menjadi ciri khas kota ini.

Terkait dengan keberadaan IAIN Pontianak, Edi Kamtono, mengilustrasikan, apa bila suatu kota banyak terdapat perguruan tingginya, maka kota tersebut akan maju dan berkembang dengan cepat, kampus IAIN Pontianak, menurutnya, menjadi bagian penting itu.

Sebagaimana diketahui, paparnya, Kota Pontianak memiliki penduduk sebanyak 587 ribu jiwa, 70% diantaranya beragama Islam, sehingga hampir semua jalan terdapat masjid atau musholla. Dengan jumlah masjid sebanyak 234 buah dan 460 musholla telah menghidupkan suasana Islami. Dapat didengar ketika suara azan saling bersahut-sahutan.

Selain itu, lanjut Edi Kamtono, setiap tahunnya di kota Pontianak selalu terjadi titik kulminasi Khatulistiwa dimana mata hari tepat berada di atas Kota Pontianak. Tepat pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September, matahari tepat di atas kepala sehingga apabila kita berdiri pada saat itu tidak ada bayangan.

Pertemuan Warek I#3Dia menjelaskan, pada peristiwa tersebut selalu diadakan acara dan perayaan di tempat terjadinya titik kulminasi agar memberikan suasana khas, dan edukasi serta penelitian bagi masyarakat dan orang yang ingin berpartisipasi ingin meningkatkan keberadaan Kota Pontianak.

Edi Kamtono juga menyampaikan, dalam lima tahun terakhir Kota Pontianak giat dalam melaksanakan pembangunan. Kota Pontianak ingin sejajar dan lebih maju seperti kota-kota lainnya di Indonesia, pada infrastruktur, sektor pendidikan dengan memberikan pendidikan gratis SDN, SMPN, SMAN, dan membebaskan biaya kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.

“Kota Pontianak didominasi Suku Melayu, namun demikian kota khatulistiwa ini dapat dikatakan sebagai kota terbuka dan heterogen yang terdiri dari banyak suku yang hidup saling berdampingan”, simpul Edi Kamtono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here