Profil Pusat Bahasa

Selayang Pandang

Pusat pengembangan bahasa didirikan pada tahun 1997. Pada awalnya pusat ini bernama unit bahasa yang menjadi bagian dari unit struktural di stain pontianak dimana tujuannya menjadi unit strategis dalam peningkatan kompetensi kebahasaan bagi civitas akademika stain pontianak waktu itu. Lalu pada perkembangannya, unit bahasa berubah nama menjadi pusat bahasa stain pontianak pada tahun 2012. Selanjutnya dikarenakan ada perubahan alih status dari stain pontianak menjadi iain pontianak, maka pusat bahasa stain pontianak juga berubah menjadi pusat pengembangan bahasa iain pontianak. Dengan demikian pusat pengembangan bahasa iain pontianak menjadi salah satu pusat strategis yang mendukung visi iain pontianak tahun 2015-2019 yakni ulung dan terbuka dalam kajian dan riset keilmuan, keislaman serta kebudayaan borneo.

Visi, Misi dan Tujuan

Visi : Menjadi pusat strategis, profesional, dan kreatif dalam mengembangkan kompetensi kebahasaan untuk mendukung kajian dan riset keilmuan, keislaman serta kebudayaan borneo.

Misi:
1. Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran bahasa kepada mahasiswa untuk mencapai tujuan kompetensi lulusan yang berkualitas.
2. Meningkatkan penguasaan bahasa bagi tenaga pendidik dan administrasi untuk peningkatan profesionalisme dan jaringan kerjasama.
3. Menyediakan layanan kegiatan pembelajaran bahasa kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di kalimantan barat.
4. Menyediakan layanan jasa kebahasaan kepada civitas akademika dan masyarakat umum dalam bentuk konsultasi, penterjemahan, pemanduan wisata, penelitian dan sebagainya.

Tujuan:
1. Menjadi fasilitator bagi seluruh civitas akademika iain pontianak dalam meningkatkan kompetensi kebahasaannya.
2. Menerapkan dan mengembangkan toefl dan toafl sebagai standar tes kebahasan di iain pontianak yang tak lain akan digunakan salah satu syarat pengajuan skripsi dan tesis.
3. Membuat iklim bahasa yang kondusif di kampus dengan mengadakan acara yang melibatkan civitas akademika iain pontianak dan masyarakat kalimantan barat pada umumnya.
4. Menjadi pusat pengembangan bahasa yang terbuka dengan berbagai keilmuan terkait kebahasaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.