Seminar Gender dan Anak sukses digelar oleh LP2M IAIN Pontianak, Selasa (15/5) Pukul 08.00 WIB di Gedung Teater Biro AUAK IAIN Pontianak. Menghadirkan narasumber di antaranya, Dr. Hj. Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog, Dr. Imron Muttaqin, M.Pd.I, Ridwan, M.S.I. Kegiatan ini pun dibuka secara langsung oleh Plt. Rektor IAIN Pontianak, Dr. Syarif, MA yang kali ini juga sebagai salah satu narasumber. Sekitar 150 peserta memadati ruangan dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Ketua LP2M IAIN Pontianak, Drs. Marsih Muhammad, M.Ag menjelaskan jika Seminar Gender dan Anak merupakan kegiatan rutin dan satu-satunya program unggulan dari Pusat Studi Gender dan Anak. Menurutnya, seminar ini sudah berkali-kali dilaksanakan. Seperti yang diungkapkannya beberapa tahun lalu tema yang diangkat tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Ia mengaku jika kesetaraan gender saat ini sudah terjadi.

“Saat ini perempuan telah banyak yang menduduki jabatan strategis di pemerintahan. Baik itu jabatan mulai di pedesaan hingga perkotaan. Hari ini tema yang diangkat yaitu Perempuan Dalam Banyak Visi. Kata visi berisi harapan maupun cita-cita. Visi juga mengandung harapan ke depan. Seminar ini nantinya akan membahas mengenai harapan dan impian perempuan ke depan setelah saat ini posisi perempuan setara dengan laki-laki. Maka dari itu, harapan kami peserta yang hadir dapat aktif dan bertanya dengan narasumber tentang tema yang menarik ini.” Ungkapnya.

Plt. Rektor IAIN Pontianak, Dr. Syarif, MA mengungkapkan saat ini perempuan tidak lagi setara bahkan lebih dari kata setara. Kemarin ketika melepas PPM Mandiri Malaysia yang dinisiasi oleh LP2M, dari 60 peserta, perempuan lebih mendominasi dalam kegiatan tersebut. Artinya perempuan saat ini lebih berani menunjukkan kualitas dan potensinya ke publik.

Menurutnya, dalam teori gender, sebenarnya Islam justu menghapus diskriminasi kepada perempuan. Namun yang dimaksud bukan menyamai laki-laki dalam hal pekerjaan. Pekerjaan perempuan lebih berat daripada laki-laki. Perempuan dipercaya Allah untuk mengandung ruh yang nantinya akan menjadi keturunannya. Saat ini ada kecenderungan perempuan merasa berprestasi jika gaji dan jabatannya lebih besar dari suaminya. Harusnya perempuan lebih bangga menjadi ibu rumah tangga yang dapat mengurus, membesarkan, dan mendidik anaknya menjadi anak yang sholih maupun sholihah.

Ia menambahkan, dalam surat Maryam 12 dan 13 yang artinya “Hai Yahya, ambillah Al Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia adalah seorang yang bertakwa” Inti dari ilmu hikmah pelajaran tentang akhlak. Al-ghazali dalam Kitab Majemuk Al-Ghazali mengatakan yang artinya akhlak itu adalah kondisi diri. Dari kondisi diri muncul perbuatan baik atau tidak baik. Ketika kondisi diri emosional perbuatannya pasti tidak bagus. Produk dari pendidikan hikmah akan menghasilkan rasa kasih sayang karena kesucian hatinya dan akan menghasilkan orang-orang yang taqwa. Dalam hal ini ketika mendidik anak, seorang ibu khususnya harus memberi pendidikan hikmah yang bermuara pada pembangunan akhlak untuk anaknya.

“Banggalah menjadi ibu yang mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih dan sholihah. Jangan bangga jika prestasi diukur dengan besarnya gaji dan jabatan melampaui suaminya. Kehormatan perempuan itu tidak diukur dengan kepintarannya, kecantikannya, kekayakaanya, atau keturunannya, tapi bagaimana perempuan mampu menjaga kehormatan dirinya sendiri dan keluarga.” Jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here