Hubungan antara tri pusat pendidikan dengan kearifan lokal umat Islam setempat dapat menjadi “ladang masalah” bagi para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak dalam sebuah penelitian. Ini yang disampaikan oleh Sekretaris Jurusan PAI, Syamsul Kurniawan, M.Si. dalam Forum Konsolidasi dan Diskusi Mahasiswa FTIK IAIN Pontianak.

Adapun tri pusat pendidikan yang dimaksud di sini adalah istilah yang digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara untuk menggambarkan tiga pusat yang secara bertahap dan terpadu mengemban suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya, yaitu pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Apabila ketiga lingkungan tersebut dihubungkan dengan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat yang beragama Islam, maka judul-judul penelitian yang dihasilkan sangat bagus dan relevan diteliti oleh para mahasiswa Jurusan PAI FTIK IAIN Pontianak.

Lebih lanjut, Syamsul menjelaskan secara rinci beserta contohnya judul-judul penelitian yang dapat diteliti oleh mahasiswa Jurusan PAI terkait keterhubungan antara tri pusat pendidikan dengan kearifan lokal umat Islam. Pertama, pendidikan di lingkungan keluarga. Pola-pola khas pendidikan yang sudah menjadi budaya oleh masyarakat muslim dapat dikaji menjadi sebuah penelitian, seperti “Tradisi Pantang Larang Orang Melayu.” Dalam tradisi tersebut, terdapat banyak pantangan ataupun larangan yang harus diamalkan oleh orang Melayu, seperti dilarang bersiul dalam rumah, nanti ular masuk, dilarang mengintip orang mandi, nanti mata bengkak dan sebagainya. Contoh judul penelitian yang dapat diangkat menjadi sebuah skripsi ialah, “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Pantang Larang Orang Madura di Batas Kota Pontianak: Penerapan Pantang Larang sebagai Media Pendidikan Orang Madura di Desa Kapur.”

Kedua adalah pendidikan di lingkungan sekolah sampai perguruan tinggi. Permasalahan yang dapat dikaji dalam sebuah penelitian ialah kurikulum muatan lokal di sekolah, kaitan pelajaran atau mata kuliah di sekolah atau perguruan tinggi dalam rangka merawat kearifan lokal, pendidikan berwawasan kearifan lokal, manajemen kepala sekolah, dan lain-lain. Di antara judul penelitian yang dapat diangkat menjadi sebuah skripsi seperti, “Motivasi Berjilbab di kalangan Mahasiswa IAIN Pontianak Asal Kabupaten Mempawah Perspektif Pendidikan Islam.”

Ketiga ialah pendidikan di lingkungan masyarakat. Permasalahan yang dapat dikaji dan dapat dijadikan sebuah penelitian di lingkungan masyarakat ialah tradisi dan upacara adat di masyarakat, cerita rakyat, naskah kuno yang ditemukan di masyarakat, pantun, organisasi paguyuban, tokoh-tokoh lokal yang punya kontribusi dalam pendidikan Islam, dan sebagainya. Contoh judul penelitian yang dapat diangkat, seperti “Kontribusi KH. Yusuf Saigon dalam Merintis Pendidikan Islam di Kota Pontianak.” Tri pusat pendidikan inilah yang ditekankan Syamsul kepada para peserta yang dapat dijadikan sebagai alternatif penelitian bagi mahasiswa dengan catatan, harus dihubungkan dengan kearifan lokal umat Islam setempat.

Forum konsolidasi dan diskusi mahasiswa yang dilaksakan di Pendopo FTIK IAIN Pontianak pada tanggal 02 Desember 2016 ini merupakan salah satu program dari Jurusan PAI FTIK IAIN Pontianak untuk meningkatkan kualitas hasil penelitian mahasiswa Jurusan PAI. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan program Jurusan PAI yang disesuaikan dengan indikator-indikator yang terdapat dalam borang akreditasi Jurusan PAI FTIK IAIN Pontianak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here