Kuching, Sarawak (iainptk.ac.id) 6 Desember 2025 – Rahnang, dosen PIAUD IAIN Pontianak sekaligus salah satu pegiat teater di Kalimantan Barat, kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Ia tampil sebagai narasumber utama (pembentang) dalam kegiatan internasional Pertemuan Teater Borneo (PTB) 2025 yang berlangsung di Auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kuching, Sarawak, Malaysia.
Dalam forum bergengsi yang mempertemukan tiga negara serumpun—Malaysia (Sarawak dan Sabah), Brunei Darussalam, dan Indonesia—Rahnang mempresentasikan gagasan strategis berjudul “Menabur Benih Ekonomi Kreatif: Memasyarakatkan Teater pada Anak Usia Dini di Borneo.”
Gagasan tersebut mendapat perhatian kuat karena menawarkan konsep baru bagaimana seni pertunjukan, khususnya teater, dapat menjadi pintu awal pembangunan ekonomi kreatif mulai dari generasi usia dini.
Kegiatan seminar yang digelar pada 6 Desember 2025 ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Teater Borneo yang berlangsung pada 4–7 Desember 2025. Selain seminar, acara juga diramaikan dengan bengkel teater (workshop), diskusi lintas budaya, serta pementasan teater dari berbagai komunitas.
Peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi, terutama ketika Rahnang memaparkan model integrasi teater dengan pendidikan anak usia dini serta peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis seni. Banyak peserta menilai konsep tersebut relevan dengan kebutuhan Borneo sebagai kawasan yang kaya budaya namun membutuhkan inovasi baru di sektor kreatif.
Sejumlah akademisi dari perguruan tinggi regional turut hadir, di antaranya para aktivis teater, sastrawan dan budayawan, dosen dan peneliti dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Universiti Teknologi MARA (UiTM), dan Universiti Brunei Darussalam (UBD).
Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka Sarawak, dalam pernyataannya, mengapresiasi kontribusi Rahnang dalam forum internasional ini.
“Gagasan saudara Rahnang sangat segar dan penting bagi masa depan teater Borneo. Pendekatan beliau menghubungkan teater dengan pembangunan ekonomi kreatif sejak usia dini adalah langkah strategis yang patut ditindaklanjuti di seluruh kawasan Borneo,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa PTB bukan sekadar ajang seni, tetapi forum intelektual yang berfungsi mempertemukan pelaku teater, akademisi, dan lembaga budaya untuk membangun masa depan seni pertunjukan di wilayah Borneo.
Kegiatan Pertemuan Teater Borneo 2025 diselenggarakan oleh Teater Ngoncong bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Sarawak, Malaysia. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan dapat memperkuat jejaring kerja pelaku seni Borneo dan mendorong lahirnya program-program berkelanjutan, termasuk pengembangan teater di pendidikan anak usia dini.

Dengan tampilnya Rahnang sebagai pembentang, Indonesia menunjukkan kontribusi aktif dalam memajukan seni pertunjukan di tingkat internasional. Kehadiran Rahnang juga menjadi representasi penting perkembangan teater di Kalimantan Barat dan eksistensinya sebagai bagian dari ekosistem teater Borneo.
Forum PTB 2025 menegaskan bahwa seni teater bukan hanya alat pelestarian budaya, tetapi juga fondasi ekonomi kreatif masa depan yang dapat dibangun sejak usia dini. Rahnang menutup presentasinya dengan ajakan agar negara-negara serumpun Borneo bersinergi dalam menciptakan masa depan teater yang inklusif, edukatif, dan berkelanjutan.
