Pontianak (iainptk.ac.id) Kamis, 11 Juni 2026 – Di tengah pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun 2026, hadir kisah-kisah inspiratif dari para peserta disabilitas yang menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan tekad yang kuat, dukungan keluarga, serta keyakinan terhadap masa depan, mereka melangkah menuju gerbang pendidikan tinggi dengan penuh harapan.

Salah satunya adalah Kholik (21), peserta tunanetra lulusan SLB Rasau Jaya, yang memilih Prodi Bimbingan Konseling Islam. Putra dari pasangan petani tersebut mengikuti UM-PTKIN atas keinginannya sendiri. Baginya, kondisi yang dimiliki tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah dalam mengejar pendidikan.
“Saya berkuliah memang keinginan sendiri. Walaupun saya memiliki kekurangan seperti ini, tetapi tidak melemahkan keinginan saya untuk berhasil. Saya yakin dengan usaha dan ibadah, saya bisa membanggakan orang tua saya di kemudian hari,” ujar Kholik.
Di balik keterbatasan penglihatannya, tersimpan semangat yang begitu besar untuk mengubah masa depan. Ia berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi penyandang disabilitas lainnya agar tetap percaya diri dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Pesan saya untuk orang-orang berkebutuhan khusus di luar sana, tetap semangat, jangan dengarkan omongan orang lain (yang menjatuhkan), dan terus kembangkan diri di manapun kita berada,” pesannya.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Bintang Agista (19), peserta dengan tuna grahita yang memiliki usia mental dibawah teman sebayanya. Meski demikian, Bintang menunjukkan kemampuan yang baik dalam bidang bahasa Inggris dan visual kreatif, khususnya animasi.
Dalam wawancaranya, Bintang yang memilih Prodi Tadris Bahasa Inggris.menyampaikan bahwa keputusannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi didorong oleh dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang selalu percaya pada kemampuannya.
“I went to college with the encouragement of my parents. They told me to continue my education so that my abilities could continue to develop.”
Bintang juga mengungkapkan rasa syukur kepada kedua orang tuanya yang senantiasa mendukung setiap keinginannya dengan penuh kasih sayang.
“Thank you to my parents who always support my every desire and fulfill all my wishes with a light heart.”
Ke depan, ia bertekad untuk terus mengembangkan kemampuan animasi dan bahasa asing yang menurutnya menarik serta bermanfaat untuk masa depannya.
Kehadiran Kholik dan Bintang dalam UMPTKIN 2026 menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan yang inklusif mampu membuka jalan bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensinya. Dukungan keluarga, lingkungan yang menerima, serta akses pendidikan yang setara menjadi faktor penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih manusiawi dan berkeadilan.
Melalui kisah mereka, masyarakat diajak untuk melihat disabilitas bukan sebagai keterbatasan, melainkan sebagai keberagaman kemampuan yang perlu dihargai dan didukung. Sebab, setiap anak bangsa memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Penulis : Aditya
Editor : Bambang
