Pontianak (iainptk.ac.id) Kamis, 11 Juni 2026 – Program Pascasarjana IAIN Pontianak kembali menggelar kegiatan Parade Isu-Isu Terkini (PARIT) sebagai wadah diskusi akademik mengenai berbagai fenomena aktual dalam dunia pendidikan dan keislaman. Kegiatan yang berlangsung di Ruang C.326 Pascasarjana IAIN Pontianak ini menghadirkan Prof. Dr. Imron Muttaqin, M.Pd.I. sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Prof. Imron Muttaqin mengangkat hasil penelitian berjudul “Model Resiliensi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang: Dua Abad Berkhidmah pada Umat”. Penelitian tersebut mengungkap faktor-faktor yang membuat Pondok Pesantren Bahrul Ulum mampu bertahan dan terus berkembang selama hampir 200 tahun sejak didirikan pada tahun 1838.
Menurut Prof. Imron, tidak semua pesantren mampu mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tuntutan masyarakat. Namun Bahrul Ulum Tambakberas berhasil menjadi salah satu pesantren tertua yang tetap eksis hingga saat ini. Hal tersebut didukung oleh lima dimensi utama resiliensi yang menjadi fondasi pesantren.
Lima dimensi tersebut meliputi nilai, spiritualitas, modal (capital), jaringan (network), dan kepemimpinan (leadership). Pada dimensi nilai, pesantren menanamkan karakter keteladanan, disiplin, keikhlasan, cinta ilmu, nasionalisme, tanggung jawab, persatuan, persaudaraan, dan kepemimpinan kepada para santri. Nilai-nilai tersebut diwariskan secara berkelanjutan sebagai identitas dan budaya pesantren.
Selain itu, aspek spiritualitas juga menjadi kekuatan utama pesantren melalui pembiasaan amalan Shalawat Burdah, hizib, dan berbagai doa yang diwariskan oleh para ulama pendiri. Tradisi spiritual tersebut diyakini mampu memperkuat karakter, semangat perjuangan, dan daya tahan lembaga dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Prof. Imron juga menjelaskan bahwa Bahrul Ulum memiliki modal yang kuat, baik berupa modal intelektual, material, religius maupun keilmuan. Di samping itu, jaringan yang luas, mulai dari jaringan genealogis, ideologis, nasional hingga internasional, turut memperkuat posisi pesantren dalam dunia pendidikan Islam.
Aspek terakhir yang tidak kalah penting adalah kepemimpinan. Bahrul Ulum menerapkan sistem kepemimpinan kolektif yang melibatkan majelis pengasuh, yayasan, serta pengelola puluhan kompleks pesantren. Model kepemimpinan transformasional dan kharismatik tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas organisasi sekaligus mendorong inovasi dan adaptasi terhadap perubahan.
Melalui kegiatan PARIT ini, mahasiswa Pascasarjana IAIN Pontianak memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya membangun ketahanan lembaga pendidikan Islam. Temuan penelitian tersebut juga menghasilkan sebuah konsep yang disebut “The Bahrul Ulum Resilience Model”, yang dapat menjadi rujukan bagi pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya dalam menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti oleh dosen serta mahasiswa Pascasarjana. Melalui forum akademik seperti PARIT, Pascasarjana IAIN Pontianak terus berkomitmen menghadirkan kajian-kajian ilmiah yang relevan dengan perkembangan pendidikan Islam dan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Penulis : Syamsul
Editor : Bambang
