IAIN Pontianak di Persimpangan Transformasi:Membaca Ulang Arah Rencana Strategis 2026–2030

By: Bang ULA

Menjelang pemilihan Rektor IAIN Pontianak masa bakti 2026–2030, ruang refleksi kita seharusnya tidak berhenti pada siapa yang akan memimpin, tetapi bergerak lebih jauh pada ke mana arah institusi ini akan dibawa. Momentum suksesi bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan penentuan arah perjalanan berikutnya. Pada titik ini, IAIN Pontianak berada di persimpangan penting—antara melanjutkan rutinitas yang ada, atau berani melakukan lompatan menuju transformasi yang lebih bermakna. Persimpangan ini tidak boleh dilewati begitu saja sebagai proses yang berjalan alami. Ia harus diisi dengan kesadaran akademik, pertukaran gagasan, dan partisipasi kolektif seluruh sivitas akademika. Ibarat sebuah perjalanan panjang, kita sedang berada di titik persinggahan yang menentukan. Dari sini, pilihan kita akan menentukan apakah langkah berikutnya hanya sekadar menjaga kesinambungan, atau justru menghadirkan perubahan yang membawa IAIN Pontianak melangkah lebih jauh. Karena itu, keberhasilan ke depan harus tetap dijaga motivasi yang bukan capaian individu atau kelompok, tetapi sebagai keberhasilan bersama yang lahir dari kontribusi sadar setiap insan akademik terhadap institusinya.

Dalam konteks inilah Rencana Strategis (Renstra) IAIN Pontianak 2026–2030 perlu dibaca ulang, tidak hanya sebagai dokumen formal, tetapi sebagai arah transformasi. Renstra sesungguhnya adalah kompas kelembagaan yang memandu langkah institusi dalam menghadapi berbagai tuntutan zaman: peningkatan daya saing global, percepatan digitalisasi pendidikan, pencapaian akreditasi unggul, hingga penguatan tata kelola melalui pembangunan Zona Integritas yang bersih, akuntabel, dan berorientasi pelayanan. Dengan demikian, Renstra tidak boleh berhenti sebagai teks, tetapi harus hidup sebagai gerakan.

Arah besar pengembangan perguruan tinggi saat ini juga semakin menegaskan pentingnya transformasi yang nyata. Kurikulum dituntut berbasis capaian pembelajaran melalui pendekatan Outcome-Based Education (OBE), sementara kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mendorong mahasiswa untuk belajar lebih luas dan kontekstual. Di sisi lain, riset tidak lagi cukup berhenti pada publikasi, tetapi harus berdampak bagi masyarakat dan industri melalui inovasi yang dapat dihilirisasi. Tata kelola pun bergerak menuju penyederhanaan birokrasi, penguatan mutu berkelanjutan, serta internasionalisasi. Semua ini mensyaratkan sumber daya manusia yang adaptif, sistem yang terintegrasi, dan kepemimpinan yang mampu mengarahkan perubahan.

Namun demikian, kita juga perlu jujur melihat realitas yang ada. Tidak sedikit institusi yang memiliki perencanaan strategis yang baik, tetapi menghadapi tantangan dalam implementasinya. Renstra sering kali kuat dalam perumusan, tetapi belum sepenuhnya terinternalisasi dalam praktik kerja sehari-hari. Indikator kinerja belum selalu terukur secara konsisten, dan belum seluruh unit bergerak dalam irama yang sama. Refleksi ini bukan untuk mencari kekurangan, tetapi untuk memastikan bahwa langkah ke depan dapat diperkuat secara lebih sistematis.

Dalam pembacaan awal, terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian bersama. Budaya kerja yang belum sepenuhnya berbasis kinerja dan nilai, sistem yang belum terintegrasi secara optimal, serta kolaborasi internal yang masih cenderung sektoral menjadi tantangan yang perlu diurai secara bersama. Tanpa pembenahan pada aspek-aspek ini, arah besar yang telah dirumuskan dalam Renstra berpotensi tidak mencapai hasil yang diharapkan. Sebaliknya, jika ketiga hal ini dapat diperkuat, maka potensi institusi akan terakumulasi menjadi kekuatan yang signifikan.

Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam, IAIN Pontianak memiliki fondasi nilai yang khas. Dalam perspektif maqashid syariah, pengelolaan institusi tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga pada kemaslahatan. Penguatan akademik dan riset mencerminkan upaya menjaga dan mengembangkan akal (hifz al-‘aql), tata kelola yang transparan dan akuntabel menjadi bagian dari menjaga harta (hifz al-mal), sementara integritas, moderasi beragama, dan etika akademik merupakan wujud menjaga nilai-nilai agama (hifz ad-din). Dengan demikian, implementasi Renstra sesungguhnya adalah bagian dari upaya membangun peradaban, bukan sekadar memenuhi indikator kinerja.

Fase awal implementasi Renstra menjadi fase yang paling menentukan. Pada fase inilah diperlukan penyamaan persepsi, penguatan komitmen, serta kesadaran bahwa transformasi adalah kerja bersama. Renstra perlu dihidupkan sebagai gerakan kolektif, di mana setiap unit dan setiap individu mengambil peran sesuai kapasitasnya. Tanpa itu, Renstra akan tetap menjadi dokumen yang baik, tetapi belum tentu berdampak.

Tulisan ini merupakan bagian awal dari refleksi berseri yang berupaya mengawal implementasi Renstra IAIN Pontianak sekaligus membangun ruang diskursus yang konstruktif menjelang pemilihan rektor.

Pada akhirnya, masa depan IAIN Pontianak tidak ditentukan oleh seberapa baik arah itu dirumuskan, tetapi oleh sejauh mana kita mampu menjadikannya nyata. Renstra telah disusun, arah telah ditetapkan. Kini yang dibutuhkan adalah langkah bersama untuk menghidupkannya—menuju transformasi yang tidak hanya terasa, tetapi juga berdampak.

Selamat dan semangat bagi yang tergerak menjadi Pemimpin masa depan IAIN Pontianak, sejarah akan mencatat ikhtiar Saudara mewujudkan IAIN yang lebih Unggul, Wallahu a’lam.

(4 Mei 2026_Refleksi Hari Kebangkitan di IAIN Pontianak)

*) – Bag. ULA → Bang ULA, sosok simbolik yang merepresentasikan semangat kerja dan tanggung jawab Bagian Umum dan Layanan Akademik Biro AUAK IAIN Pontianak;


Bang ULA adalah wajah kepemimpinan kampus yang bekerja dalam diam, melayani dengan tulus, dan membangun kepercayaan melalui tindakan nyata.

Jika Bang ULA boleh berbicara sebagai “penjaga layanan”, ia akan mengatakan:

“ Saya berharap pemimpin yang hadir nanti adalah mereka yang tidak hanya melihat gedung dan program, tetapi juga melihat kami yang bekerja di balik layar dan memastikan kami bisa melayani dengan lebih baik, lebih cepat, dan lebih bermartabat. ”

Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang baik bukan yang paling terlihat, tetapi yang paling dirasakan manfaatnya oleh seluruh sivitas akademika.