Pontianak (iainptk.ac.id) Rabu, 3 Juni 2026 — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar kegiatan Gedebuk atau Gerakan Dedah Buku episode spesial dengan membahas buku Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca Konflik Etnik karya Abdur Rozaki. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat lantai 4 IAIN Pontianak tersebut dihadiri oleh dosen, pegawai, dan mahasiswa IAIN Pontianak.
Gedebuk merupakan program yang diinisiasi LP2M IAIN Pontianak sebagai ruang akademik untuk membedah buku, memperluas cakrawala keilmuan, serta membuka cara berpikir sivitas akademika terhadap isu-isu sosial, keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan. Pada sesi ketujuh ini, LP2M menghadirkan tema tentang diaspora Madura, resiliensi, strategi, dan transformasi masyarakat pascakonflik etnik di Kalimantan Barat. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Andry Fitriyanto Sekretaris LP2M.


Dalam kegiatan tersebut, Eka Hendry Ar., M.Si., M.Pd. hadir sebagai pembedah buku, sementara Subro hadir sebagai panelis. Pembahasan berjalan dinamis dengan menempatkan buku sebagai pintu masuk untuk membaca sejarah panjang konflik, posisi diaspora Madura, serta upaya membangun perdamaian di tengah masyarakat yang pernah mengalami ketegangan sosial.
Eka Hendry Ar. menyampaikan bahwa pembahasan mengenai konflik tidak dapat dilihat secara sederhana dan semata-mata melalui pendekatan positivistik. Menurut beliau, konflik kerap meninggalkan luka kepada berbagai pihak, sehingga diperlukan empati terhadap korban dari kedua belah pihak. Beliau juga menyampaikan pengalamannya saat menjadi bagian dari Dewan Dakwah dalam konteks konflik di Sambas, salah satunya melalui program rehabilitasi mental yang dilakukan di masjid.
“Kita perlu empati terhadap korban. Konflik akan menumpulkan korban dari kedua belah pihak. Pendekatannya tidak bisa hanya positivisme, karena hal itu justru bisa menjadi masalah,” ungkap Eka Hendry Ar.
Beliau menambahkan, etnik hanyalah salah satu bagian dari persoalan konflik di Kalimantan Barat. Oleh karena itu, penyampaian argumen dalam membaca konflik tidak dapat dilakukan secara membabi buta, tetapi harus diletakkan dalam kerangka akademik, historis, dan kemanusiaan.



Sementara itu, Subro menyambut baik pelaksanaan diskusi buku tersebut. Menurutnya, pembahasan tentang konflik dan perdamaian perlu terus dihidupkan dalam ruang akademik, bukan hanya dibicarakan dalam percakapan informal sehari-hari. Subro tidak hanya hadir sebagai panelis, tetapi juga sebagai penyintas konflik di Kalimantan Barat sekaligus aktivis yang aktif mendukung gerakan perdamaian. Beberapa ikhtiar yang pernah dilakukan di antaranya Seruan Pontianak 2009 dan Deklarasi Damai 2001.
“Pembahasan ini saya senang tidak hanya di warung kopi, tetapi juga di forum akademik agar lebih bermakna. Kita bisa berdiskusi dan berdebat membahas buku ini,” ujar Subro.
Subro juga menegaskan bahwa konflik yang tidak diselesaikan sampai ke akar persoalan berpotensi meninggalkan warisan masalah bagi generasi berikutnya. Karena itu, generasi muda, termasuk Gen Z, perlu belajar dari masa lalu agar mampu membangun cara pandang yang lebih damai, kritis, dan solutif ketika menghadapi potensi konflik sosial.
Dalam paparan yang ditampilkan, konflik di Kalimantan Barat dibaca melalui sejumlah akar persoalan, di antaranya perbedaan kultural, persaingan ekonomi, kelemahan institusional, kekecewaan elite lokal, serta pembingkaian politik identitas. Selain itu, disampaikan pula bahwa Kalimantan Barat memiliki sejarah kekerasan yang panjang, mulai dari masa kolonialisme, Orde Lama, hingga Orde Baru. Dalam konteks diaspora Madura, pembahasan juga menyentuh beberapa gelombang kehadiran masyarakat Madura, mulai dari periode perintisan, periode surut, periode keberhasilan, hingga periode penguatan budaya pendidikan melalui pondok pesantren dan pendidikan modern.
Melalui kegiatan ini, LP2M IAIN Pontianak berupaya menghadirkan ruang akademik yang tidak hanya membahas buku sebagai teks, tetapi juga sebagai refleksi sosial. Diskusi tersebut menjadi sarana untuk membaca kembali sejarah konflik, memahami pengalaman penyintas, serta merumuskan pentingnya resiliensi, strategi, dan transformasi masyarakat pascakonflik.
Kegiatan Gedebuk episode spesial ini juga menjadi pengingat bahwa perdamaian di Kalimantan Barat perlu terus dirawat melalui pengetahuan, dialog, empati, dan keberanian untuk belajar dari sejarah masa lalu.
