PONTIANAK (iainptk.ac.id)–Ratusan pegawai IAIN Pontianak mengikuti kegiatan pembinaan pegawai. Hadir sebagai narasumber, Prof. Azyumardi Azra,MA. Kegiatan tersebut digelar di Auditorium Syeikh Abdul Rani Mahmud, Jumat (22/2/ 2019).

Prof. Azyumardi Azra merupakan Guru Besar UIN Jakarta. Tampak hadir Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Kepala Biro AUAK, para Dekan, Direktur Pascasarjana, para kabag serta para pejabat lainnya di lingkungan IAIN Pontianak.

Kegiatan pembinaan ini secara resmi di buka oleh Pelaksana Harian (Plh) Rektor. Dr. Firdaus Achmad, M.Hum yang merupakan Wakil Rektor I IAIN Pontianak.

Dalam sambutannya, Dr. Firdaus berharap kehadiran Prof. Azyumardi Azra di IAIN Pontianak menjadi “pemancing” bagi IAIN Pontianak dalam melahirkan Guru Besar atau Professor tuturnya disambut tepuk tangan yang gemuruh oleh hadirin.

“Secara khusus, rektor berpesan dan meminta agar Prof. Azyumardi Azra, atau sapaan akrab beliau Prof Azra, untuk menyampaikan tangkal atau menolak radikalisme, karena memang salah satu yang ingin dikembangkan atau diprogramkan IAIN kedepan khususnya Pengenalan budaya Akademik (PBAK) Mahasiswa baru adalah menolak radikalisme” tuturnya.

“Radikalisme merupakan isu yang sudah lama kita dengar. Akan tetapi menjadi sesuatu yang semakin menggeliat ketika ia masuk dalam tahun politik. Dalam tahun politik ini, apa saja bisa diterjemahkan orang. Seringkali hadirnya pembenaran yang dipaksakan, yang menyebabkan tidak lincahnya jalan pikiran manusia. Oleh karena itu, untuk membekali dosen dan pegawai yang akan berhadapan dengan mahasiswa baru, kami berharap kepada Prof. Azra, dapat memaparkan apa itu radikalisme dan bagaimana menangkal radikalisme” harapnya.

Mengawali pembinaan pegawai ini, Prof. Azyumardi Azra mengajak hadirin untuk senantiasa bersyukur. Karena dengan bersyukur Allah akan tambah nikmatnya. Beberapa tahun ke depan sudah harus dipertimbangkan untuk menjadi UIN Pontianak. Tentu, tetap menghadirkan etos kerja yang tinggi, harap beliau.

“Pada dasarnya, seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri mempunyai tanggung jawab khusus yaitu mengembangkan sikap moderasi atau moderasi keagamaan. Karena sesungguhnya disetiap agama itu selalu ada unsur atau elemen yang tidak keluar dari moderasi keagamaan. Lawan dari moderasi itu apa? Yaitu ekstrim dan radikal” paparnya berwibawa.

Selanjutnya beliau memaparkan, diantara penyebab atau sumber radikalisme yakni pertama, doktrin dari kitab suci yang dipahami secara literal dan dipahami secara sepotong-sepotong. Kedua, adanya orang-orang yang merasa lahir kembali dalam agama-agamanya masing, yang pada akhirnya melahirkan kekerasan. Ketiga, rasa frustasi dan dalam bidang ekonomi dan politik atau gagal dalam berintegrasi.

“Integrasi dalam masyarakatnya masing-masing. Tidak ada unsur atau jaminan paham radikalisme atau ekstrimisme itu akan lenyap, ia akan hilang sementara faktor-faktornya masih hidup atau masih ada. Oleh karena itu, sebagai yang terlibat dalam PTKIN memahami dan mengamalkan Islam secara komperehensif sangat penting, menjelaskan Islam secara historis dan sosiologis juga diperlukan dalam mencegah ekstrimisme dan radikalisme” urainya.

Penulis: Heriansyah
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here