JAKARTA (iainptk.ac.id)-Dilaksanakan di Jakarta tanggal 21-22 Februari 2019, rakor PTKI ini dalam meteri-materi yang disampaikan mulai dari laporan Dirjen, arahan Menag, sampai pada presentasi Direktorat PTKI, setidaknya bahwa mengiringi laju pesatnya pembangunan akses berupa beberapa fasilitas sarpras, dapat diekstraksi stressingnya pada dua hal yaitu: pertama, bagaimana mewujudkan PTKI bisa muncul ambil peran dalam konteks kekinian kebangsaan terutama yang terkait langsung dengan eksistensi PTKI dalam hal isu-isu keagamaan. Yang kedua tentang mutu atau kualitas di dalam berjalan dan eksisnye PTKI.

Dalam hal mutu ini dapat distressing pada hal-hal seperti SDM subyek pengelola PTKI seperti program percepatan peningkatan jumlah guru besar. Tentang guru besar ini dirasakan sangat lamban pencapaiannya.

Diharapkan dengan ditandatanganinya RPP akan terdorong kemudahan untuk mewujudkan percepatan jumlah Guru Besar di PTKI tanpa men-downgrade persyaratan, tetapi dengan percepatan dan kemudahan proses birokrasinya.

Berikutnya tentang Mahasiswa, dan dirasah islamiyah. Tentang mahasiswa ini yang harus menjadi stressing penting mengenai kualitas pemahaman keagamaan. Kualifikasi jenis ini sangat terkait langsung dengan kebijakan yang berkebutuhan dengan kajian atau dirasah Islamiyah. Dalam hal dirasah Islamiyah ini Dirjend Pendis berhasrat mengembalikan ruh perkuliahan dirasah Islamiyah seperti era 90-an yang sarat dengan kajian literatur primer. Beliau mengajak para rektor PTKI untuk mengembalikan dirasah Islamiyah kepada khithahnya, yaitu dimulai dari kapasity pra dosen sampai kepada kurikulumnya.

IAIN Pontianak menyambut arah peta kebijakan ini dengan telah menyiapkan Program Nyantri Mahasiswa (PNM) dan Workshop kurikulum untuk memasukan standarisasi terkait dirasah Islamiyah. Dua program ini merupakan program unggulan yang diimami oleh wakil rektor bidang akademik dan pengembangan lembaga.

Tentang PNM, sementara ma’had kampus hanya bisa menampung 200 mahasiswa, maka untuk mahasiswa angkatan 2019 ini akan diadakan dengan pola kemitraan dengan pesantren sekitar. Setidaknya dibutuhkan tidak kurang dari 10 pesantren yang menjadi sasaran pertemuan-pertemuan persiapan sejak awal tehun ini. Untuk selanjutnya, IAIN Pontianak akan memulai merintis pembangunan ma’had di tanah hibah luas 2 hektar dari alumni yang berlokasi di selat panjang Pontianak Utara Kota Pontianak yang proses balik namanya saat ini sedang berjalan.

Tentang dirasah Islamiyah, IAIN Pontianak sedang mempersiapkan workshop kurikulum yang akan menggodok rencana standarisasi kualifikasi kemampuan mahasiswa dalam kajian keislaman. Konsep dasar yang akan menjadia acuan ialah bahwa sampai semester lV mahasiswa akan diberikan kemampuan memahami kajian keislaman standar sama dan merata pada semua fakultas dan prodi. Kemudian semester V ke atas akan difokuskan pada kemampuaan spesialisasi berbasis prodi pada fakultas masing-masing.

Kebijakan ini telah dipaparkan rektor pada setiap kesempatan baik di hadapan para pejabat, para mahasiswa, maupun pada masyarakat. Terkait mutu juga rektor berkebijakan akan mencukupkan kekurangan dosen berbasis prodi dengan akan mengangkat dosen tetap non pns berbasis PMA nomor 320/2016 dan Keputusan Dirjend nomor 844/2016.

Penulis: Abdullah
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here