PONTIANAK (www.iainptk.ac.id)–Rektor IAIN Pontianak, Dr. Syarif, MA didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga dan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan melakukan shilaturrahim kepada Kapolda di Mapolda Kalbar, jalan Ahmad Yani Pontianak (Senin, 27/5).

Bersama Kapolda Irjen Pol. Drs. Didi Haryono, S.H., M.H yang didampingi Dir Intelkam tersebut Rektor berbincang tentang Wawasan Kebangsaan di lingkungan IAIN Pontianak. Ada beberapa strategi dan program terkait Wawasan Kebangsaan yang diterapkan dan menjadi kebijakan di IAIN Pontianak dipaparkan Rektor dihadapan Kapolda Kalbar. Kebijakan tersebut bertujuan sebagai penguatan untuk anti radikalisme dan untuk peran aktif IAIN dalam bersama-sama mengisi dan merawat NKRI.

Mengiringi pengertian radikalme saat ini yaitu semua pemikiran dan gerakan yang anti Pancasila dan UUD 1945, anti NKRI, Intoleran, dan bercita-cita mewujudkan khilafah Islamiyah, Rektor IAIN Pontianak yang juga Sekjend NU Kota Pontianak itu memaparkan ikhtiarnya untuk menangkal radikalisme.

“Bahwa pimpinan IAIN Pontianak saat ini terus mewujudkan dan mengisi ikhtiarnya seperti: telah mewujudkan Rumah Moderasi, melakukan pembinaan pegawai stressing wawasan kebangsaan, mewawancarai para calon mahasiswa yang akan kuliah di IAIN Pontianak pada semua jalur masuk SPAN PTKIN, UM-PTKIN, dan SPMB MANDIRI” terang rektor.

Di samping itu Rektor IAIN Pontianak mengeluarkan kebijakan tentang wajib sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para pengurus organisasi kemahasiswaan (ormawa), dan wawancara Wawasan Kebangsaan untuk para calon dosen yang mengikuti tes CPNS.

Semua penyampaian tentang wawasan kebangsaan yang ditampilkan terutama untuk materi sertifikasi WKB (wawasan kebangsaan) untuk para pengurus ormawa, lanjut rektor, adalah tentang Pancasila dan UUD45, ke-NKRI-an, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan tentang Moderasi Beragama.

Pada saat yang sama, Kapolda Kalbar menyambut baik terhadap kebijakan rektor dalam memimpin IAIN Pontianak terkait WKB.

“IAIN Pontianak kan pusat kajian keislaman. Jadi kampus IAIN Pontianak baik itu mahasiswa, maupun para pejabatnya, terutama para dosennya harus menjadi penggerak kedamaian masyarakat. IAIN Pontianak harus menebar kesejukan kepada masyarakat dengan menyampaikan ajaran Islam yang original dan hakiki yaitu bahwa Islam itu rahmatan lil’alamin” kata Kapolda kelahiran Sambas tersebut.

Kapolda juga menyampaikan informasi tentang dosen IAIN yang perlu diajak bersama-sama dengan kepolisian dan masyarakat untuk tidak mengeluarkan statemen yang panas yang bisa memprovokasi masyarakat. Sebab Kalbar dan khususnya kota Pontianak sudah kondusif. “Maka kita mesti bersama-sama menjaga dan melanjutkan kondusifitas itu” tegas Kapolda.

Rektor menambahkan bahwa beliau berkomitmen untuk peran kedamaian dan kesejukan ini. Rektor akan mengingatkan dan mengundang dosen yang terindikasi memanas-manasi masyarakat, terutama pada saat kerusuhan pada 22 Mei yang lalu.

Disela-sela shilaturrahim tersebut disepakati bahwa pertemuan itu akan ditindaklanjuti dengan MoU antara Polda Kalbar dan IAIN Pontianak, sekaligus dengan mengisi program bersama dalam rangka penguatan Wawasan Kebangsaan untuk Indonesia Kuat dan NKRI utuh.

Penulis: Abdullah.
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here