Sesuai kebijakan pemerintah Republik Indonesia yang ingin menjadikan daerah perbatasan negara sebagai latar depan negara, dan kajian-kajian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan yang dilakukan sebelumnya, Badan Litbang Kementerian Agama Republik Indonesia pada tahun 2018 ini melakukan aksi nyata di perbatasan negara dengan melakukan riset aksi melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa bekerja sama dengan 7 Perguruan Tinggi Keagamaan di enam lokasi perbatasan negara, yaitu Natuna (Kep. Riau), Entikong (Kalimantan Barat), Pulau Sangihe (Sulawesi Utara), Skouw Jayapura (Papua), Saumlaki (Maluku), Atambua (Nusa Tenggara Timur). Kegiatan ini melibatkan 71 mahasiswa, 7 dosen pembimbing, 7 peneliti.

Berdasarkan penelitian dan kajian yang pernah dilakukan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan sebelumnya ditemukan potensi berkembangnya paham intoleransi di Indonesia, potensi itu tidak saja berkembang di perkotaan, namun berpotensi juga berkembang di daerah perbatasan negara. Karena itu perlu pengembangan hubungan agama fungsional satu sama lain yang saling memelihara kerukunan. Di samping itu terdapat disparitas tingkat kompetensi antara Sumber Daya Manusia (SDM) a di wilayah di perbatasan dengan SDM di pusat-pusat pemerintahan. Karena itu perlu upaya yang terus menerus untuk mengurangi jarak kesenjangan tersebut. Atas pertimbangan dua hal tersebut riset aksi kebangsaan ini dilakukan.

Kegiatan ini bertujuan untuk : 1) Mengembangkan kerukunan sosial untuk pembangunan daerah perbatasan negara; 2) Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal pelaku Pendidikan Agama dan Keagamaan; 3) Membangun Kerjasama dan kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Keagamaan untuk pengembangan daerah perbatasan; 4) Menemukan model-model kearifan lokal dalam pembanguan daerah perbatasan.

Kegiatan Riset Aksi ini yang disebut Riset Aksi Kebangsaan ini diresmikan secara langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, pada acara Temu Nasional Peneliti Agama di Serpong pada tanggal 13 Juli 2018. Kegiatan riset aksi ini pelaksanaannya menyesuaikan jadwal akademis masing-masing kampus Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) mitra. Pada semester pertama tahun, IAIN Manado mengirim KKN ke Pulau Sangihe (perbatasan dengan Philipina); IAIN Ambon mengirim KKN ke Saumlaki (perbatasan dengan Australia), IAIN Jayapura mengirim KKN ke Skouw (Perbatasan dengan Papua Nugini). Sedangkan pada semester dua, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengirim KKN ke Natuna (Perbatasan dengan Malaysia, Thailand), IAIN Pontianak mengirim KKN ke Entikong (Perbatasan dengan Malaysia) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengirim KKN ke Atambua (Perbatasan dengan Timor Leste).

Dengan diselenggaranya riset aksi kebangsaan ini diharapkan kegiatan ini mampu memetakan permasalahan-permasalahan yang ada terkait keberlangsungan keharmonisan hubungan sosial keagamaan di wilayah perbatasan, demikian juga berbagai permasalahan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah perbatasan. Dari sini kita berharap ditemukan beberapa solusi alternatif untuk membangun wilayah perbatasan yang tetap mengedepankan kerukunan sosial sebagai tonggak kemajuan dan menjaga Kesatuan Negara Republik Indonesia.

Selanjutnya, sebagai puncak riset aksi kebangsaan ini, kami melaksanakan seminar evaluasi riset aksi kebangsaan di enam lokasi perbatasan negara ini di Atambua, kab. Belu NTT. Lokasi ini kami pilih dengan alasan: Kab Belu merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, dan NTT berdasarkan kajian Kementerian Agama merupakan model daerah ter-rukun di Indonesia. Dari Atambua ini, kami ingin belajar bagaimana stimulasi keagamaan mampu memajukan daerah tanpa harus mengorbankan Kerukunan sosial.

Atas terselenggaranya kegiatan Riset Aksi Kebangsaan dan seminar evaluasi ini, kami merasa perlu mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) mitra yang telah bekerjasama untuk melakukan kegiatan di wilayah perbatasan negara. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pada pemerintah daerah-daerah sasaran kegiatan yang telah menerima mahasiswa kami dan membantu terlaksananya kegiatan ini. Terkhusus, terima kasih juga kami sampaikan kepada pemerintah daerah Kab. Belu yang secara terbuka menerima permohonan kami untuk menyelenggarakan kegiatan seminar evaluasi ini.

Tak ada gading yang tak retak, akhirnya kami mengharapkan sumbang saran untuk kebaikan kegiatan riset aksi ini di masa yang akan datang, sekaligus kita tetap menggelorakan tekad dan semangat yang sama, bahwa sudah waktunya daerah perbatasan negara harus maju seperti daerah lainnya.

Penulis: Septian Utut
Moderator: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here