PALU, (iainptk.ac.id)– Wakil Rektor II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Dr. H. Saifuddin Herlambang, M.Ag mempresentasikan karya ilmiah pada forum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-18 pada Rabu (19/9/2018) di ruang SBSN 13 IAIN Palu.

 

Judul yang diusungnya “Al-Aqalliyat al-Diniyah fi al-Buldan al-Islamiyah: al-Qawi’ wa Afaq al-Ta’ayusy, Tunis wa Indunisia Anmudzajan”.

Dalam paparannya, Dr. Herlambang menjelaskan bahwa terkait peran minoritas dalam pembangunan bangsa terkadang di kesampingkan oleh kelompok mayoritas. Dan itu terjadi dalam penafsiran teks-teks agama. Sebagai sampel, penafsiran Ibnu ‘Ashur yang tidak mempercayai keterlibatan non muslim dalam konteks musyawarah di Tunisia. Meskipun jumlah non muslim tidak lebih dari 1 persen.

Pandangan Ibnu ‘Ashur ini terkait dengan runtuhnya kepercayaan terhadap non muslim. Dimana sering kali mereka menistakan keberadaan muslim di negara non muslim di saat muslim menjadi minoritas. Artinya tafsir juga dapat berperan sebagai alat politik identitas” papar doktor lulusan UIN Jakarta yang meraih nilai cumlaude tersebut.

Sementara itu panelis dalam tema yang sama, Prof. Abdul Qodir Naffati, Guru Besar Universitas Ezzitouna Tunisia mengungkapkan, “Perdamaian dunia itu menjadi impian semua orang. Kitab suci dan terbitnya peraturan pemerintah dari berbagai negara menganjurkan untuk saling menghormati. Ada kesepakatan PBB untuk menghormati kaum minoritas. Ada 9 pasal kesepakatan untuk selalu menghormati sesama. Begitu pula dalam negara Arab ada Undang-undang yang menyeru menghormati sesama” terangnya.

Dirinya menambahkan ” Teks agama, al-Qur’an dan Kitab suci lainnya mengajarkan kedamaian. Menjadi kewajiban kita sebagai muslim terbesar di Indonesia untuk saling menghargai kaum minoritas yang berbeda keyakinan. Begitu pun sebaliknya” tegasnya.

Penulis: Abdullah
Editor: Aspari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here