Pontianak (iainptk.ac.id) — Dalam beberapa tahun terakhir, istilah entrepreneur atau wirausaha menjadi semakin populer di kalangan muda Indonesia. Banyak yang terinspirasi oleh kesuksesan para pendiri start-up, para pelaku UMKM yang berhasil menembus pasar global, hingga sosok-sosok yang menjadikan kreativitas sebagai sumber penghidupan. Namun, di balik hiruk-pikuk tren kewirausahaan ini, ada satu hal yang sering terlupakan: bahwa menjadi entrepreneur bukan hanya soal menciptakan produk, melainkan juga tentang menggerakkan perubahan sosial.
Entrepreneur dan Makna Sosial di Baliknya
Sering kali, wirausaha dipahami semata-mata sebagai upaya mencari keuntungan finansial. Padahal, hakikat kewirausahaan jauh lebih luas dari itu. Seorang entrepreneur sejati adalah individu yang mampu melihat masalah di sekitarnya sebagai peluang untuk menghadirkan solusi. Produk atau jasa yang mereka ciptakan bukan hanya menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga memperbaiki tatanan sosial, membuka lapangan kerja, dan memberdayakan masyarakat.
Ambil contoh gerakan social entrepreneurship yang kini mulai marak di berbagai daerah di Indonesia. Banyak anak muda memilih untuk membangun bisnis yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial. Ada yang mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi, ada pula yang memanfaatkan bahan lokal untuk menciptakan produk ramah lingkungan. Di sinilah peran penting entrepreneur sebagai agen perubahan sosial terlihat nyata.
UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, sejatinya sudah lama memainkan peran sosial tanpa label “social enterprise.” Para pelaku UMKM di berbagai daerah sering menjadi penggerak ekonomi keluarga dan komunitas. Mereka menciptakan lapangan kerja, menjaga rantai pasok lokal, hingga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Di Pontianak, misalnya, tidak sedikit pelaku UMKM yang mengangkat potensi daerah melalui produk khas Kalimantan Barat, seperti tenun, kerajinan tangan, dan kuliner lokal. Mereka tidak hanya menjual barang, tetapi juga melestarikan identitas budaya serta menciptakan ruang bagi masyarakat sekitar untuk turut berdaya. Dalam konteks ini, wirausaha menjadi bagian dari gerakan sosial yang memperkuat jati diri bangsa.
Namun, menjadi entrepreneur yang membawa dampak sosial tentu tidak mudah. Tantangan terbesar sering kali bukan pada modal finansial, melainkan pada perubahan pola pikir (mindset). Banyak wirausaha yang masih terjebak dalam paradigma lama — bahwa tujuan utama bisnis adalah keuntungan semata. Padahal, di era ekonomi kolaboratif seperti sekarang, keberlanjutan bisnis justru semakin bergantung pada kemampuan menciptakan nilai sosial.
Selain itu, masih ada hambatan lain seperti rendahnya literasi digital, keterbatasan akses pasar, dan kurangnya dukungan kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha kecil. Tanpa dukungan ekosistem yang inklusif, sulit bagi entrepreneur sosial untuk bertahan dan berkembang.
Mengapa Nilai Sosial Kini Jadi Kunci
Perubahan perilaku konsumen juga memperkuat pergeseran ini. Generasi muda kini lebih selektif dalam memilih produk—mereka ingin membeli dari merek yang memiliki nilai dan tujuan jelas. Fenomena conscious consumerism menjadikan nilai sosial sebagai keunggulan kompetitif baru. Artinya, semakin tinggi kesadaran sosial sebuah bisnis, semakin besar peluangnya untuk mendapat kepercayaan publik.
Karena itu, entrepreneur masa kini dituntut untuk tidak hanya fokus pada inovasi produk, tetapi juga inovasi sosial. Bagaimana bisnis mereka dapat mengurangi ketimpangan, memperbaiki lingkungan, atau memperkuat solidaritas komunitas. Sebuah bisnis yang mampu menjawab tantangan sosial bukan hanya berumur panjang, tetapi juga meninggalkan warisan makna.
Peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi krusial dalam menciptakan ekosistem yang mendukung entrepreneur berorientasi sosial. Pendidikan kewirausahaan perlu diarahkan bukan hanya pada aspek bisnis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepemimpinan sosial. Kampus dan lembaga keagamaan dapat menjadi pusat inkubasi ide-ide wirausaha yang berlandaskan etika dan kepedulian.
Sementara itu, dukungan kebijakan publik seperti kemudahan perizinan, akses pembiayaan, hingga insentif bagi usaha berorientasi sosial perlu terus diperkuat. Kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas—akan mempercepat lahirnya lebih banyak entrepreneur yang berjiwa perubahan.
Pada akhirnya, entrepreneurship bukanlah semata urusan ekonomi, melainkan sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat. Seorang entrepreneur sejati tidak berhenti pada penciptaan produk atau layanan, tetapi terus mencari cara untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Di tangan entrepreneur yang visioner, bisnis dapat menjadi jembatan menuju masyarakat yang lebih adil, berdaya, dan sejahtera.
Karena itu, sudah saatnya kita menilai kesuksesan wirausaha bukan hanya dari omzet dan pertumbuhan pasar, tetapi dari sejauh mana mereka berkontribusi bagi perubahan sosial yang nyata. Sebab, di tengah dunia yang terus berubah, nilai kemanusiaanlah yang seharusnya tetap menjadi pusat dari setiap inovasi.
Penulis: Ahmad Arif Ramadhan
Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah
Pascasarjana IAIN Pontianak
