IAIN Pontianak

“Sosok Inspiratif” TVRI Kalbar Angkat Kisah Anak Yatim, Penjual Es, dan Kusir Bendi yang Kini Jadi Rektor IAIN Pontianak

Pontianak (iainptk.ac.id) Sabtu, 22 Agustus 2026 – Program “Sosok Inspiratif” TVRI Kalimantan Barat mengangkat perjalanan hidup Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., tayang secara live pukul 11.00 WIB, Sabtu (22/8/2026), dengan dipandu host Fitrah.rd. Kisah tersebut mengangkat perjalanan hidupnya dari seorang anak yatim, penjual es keliling, dan kusir bendi cilik, hingga menjadi seorang profesor sekaligus Rektor IAIN Pontianak periode 2026–2030. Tayangan ini dapat disaksikan melalui live streaming di kanal YouTube TVRI Kalbar pada tautan berikut: https://www.youtube.com/live/gOZR83nvJio?si=OmiWbQg6pgmVRSSO

Kisah hidup Prof. Wajidi bermula pada Agustus 1976, saat ia menjadi yatim sepeninggal sang ayah, M. Sayadi, tepatnya pada Sabtu, 21 Agustus 1976, ketika ia baru duduk di kelas satu Madrasah Ibtidaiyah Bonde, Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia menjadi satu-satunya yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Semasa kecil, Wajidi menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Sepulang sekolah, ia berkeliling kampung menjajakan es tonton dengan termos di tangan kiri dan lonceng kecil di tangan kanan. Ia juga sempat menggantikan kakaknya yang sakit sebagai kusir bendi, mengantar penumpang meski usianya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Lima puluh tahun kemudian, masih di bulan yang sama, tepatnya 6 Agustus 2026, Prof. Wajidi resmi dilantik Menteri Agama RI sebagai Rektor IAIN Pontianak. Sebelum menjabat rektor, ia tercatat telah mengunjungi sekitar 20 negara, di antaranya Arab Saudi, Mesir, Yordania, Palestina, Qatar, Amerika Serikat, Tiongkok, sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, Swiss, Luksemburg, Austria, dan Italia, serta negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Di sela acara, seorang penelepon yang belakangan diketahui sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Muhajirin, turut menyampaikan dukungan dan doanya secara langsung. “Semoga impian, gagasan segera terwujud, saya kenal Pak Wajidi adalah orang yang memiliki komitmen dan konsisten yang tinggi. Saya support dan bangga, serta berharapan IAIN Pontianak berubah status menjadi UIN,” ujarnya.

Perjalanan hidup Prof. Wajidi menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan status yatim bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Kisah ini menegaskan pesan bahwa kerja keras, kesabaran, doa, dan tawakal kepada Allah SWT menjadi kunci utama dalam mengubah nasib seseorang.

Melalui tayangan ini, perjalanan hidup Prof. Wajidi diharapkan menjadi inspirasi, khususnya bagi anak-anak Indonesia yang lahir dari keluarga sederhana, agar tidak pernah malu dengan keadaan maupun berhenti bermimpi karena keterbatasan, serta terus belajar, bekerja keras, berdoa, dan bertawakal kepada Allah SWT.

Penulis : Humas IAIN Pontianak

Editor : Bambang

Scroll to Top