Pontianak (iainptk.ac.id) — Dalam ketenangan sikap dan kesederhanaan tutur, Eka Wahyudi, S.H.I., menyimpan perjalanan panjang yang menginspirasi. Pria kelahiran Pontianak, 28 November 1967 ini resmi menuntaskan masa pengabdiannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di IAIN Pontianak pada tahun 2025, setelah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab.
Moto hidup beliau sederhana, namun sarat makna: “Hidup itu jalani seperti air mengalir.” Bagi Eka, bekerja adalah amanah—dijalani dengan tenang, konsisten, dan penuh rasa syukur. Sikap tersebut tumbuh dari perjalanan hidup beliau sebagai putra daerah Pontianak yang menempuh pendidikan di SDN 94 Pontianak, SMP Swasta Koperasi, STMN 1 Pontianak, hingga meraih gelar sarjana di STIS Syarif Abdurrahman Pontianak.
Dalam perjalanan hidupnya, Eka pernah mengalami kehilangan besar ketika istrinya tercinta, almarhumah Nur Wahdah, wafat pada tahun 2001 pada usia 36 tahun. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai enam buah hati: Muhammad Reza Satria, Azizah Siti Hafiza, Azizah Siti Hafifa, Revina Aura Sabilah, Fahri Tabrani Fauzi, dan Ulfa Melly Dahlia. Keenam anak inilah yang menjadi sumber kekuatan beliau dalam bekerja dan menjaga nama baik profesi.
Eka memulai perjalanan sebagai tenaga honorer pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Haitami Salim. Pada tahun 2005, beliau resmi diterima sebagai CPNS melalui formasi instalasi listrik bersama sejumlah pegawai lain dari formasi berbeda. Sejak saat itu, jenjang karier beliau terus meningkat hingga mencapai pangkat Penata Tk. I (III/d) berdasarkan SK yang terbit pada 17 April 2025.
Selama mengabdi, beliau pernah dipercaya memegang berbagai amanah penting, di antaranya:
-
Pengadministrasi Subbagian Umum STAIN Pontianak (2009)
-
Pengawas Kebersihan dan Keamanan Ma’had Al-Jami’ah IAIN Pontianak (2014)
-
Pengadministrasi Pusat Ma’had Al-Jami’ah (2014)
-
Pelaksana Subbagian Akademik, Kemahasiswaan & Alumni FEBI (2019)
-
Penyusun Rencana Kebutuhan Rumah Tangga & Perlengkapan FEBI (2019–2022)
-
Penata Layanan Operasional Bagian Tata Usaha FEBI (2025)
Atas dedikasi dan rekam jejak yang tanpa cela, beliau menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2018.
Selama 33 tahun pengabdian—13 tahun sebagai tenaga honorer dan 20 tahun sebagai ASN—Eka membuktikan bahwa loyalitas bukan diukur dari lamanya masa bakti, melainkan dari ketulusan dalam menjalankan tugas. Bagi beliau, bekerja adalah ibadah; tidak perlu dipamerkan, tetapi wajib diselesaikan dengan sepenuh hati.
Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: “Kalau ada kendala, hadapi dulu. Kalau tak mampu, minta bantuan. Tidak ada pekerjaan yang selesai sendirian.” Baginya, suasana kekeluargaan di lingkungan kampus membuat setiap tugas terasa lebih ringan dan penuh makna.
Menjelang masa purnabakti, Eka menitipkan sejumlah pesan berharga:
-
Jaga kesehatan agar setiap tugas dapat diselesaikan dengan baik.
-
Bekerja tanpa pamrih dan lakukan yang terbaik.
-
Bangun komunikasi yang baik agar pekerjaan tidak menjadi beban.
-
Ciptakan kebersamaan, dan jangan biarkan selisih paham berlarut.
-
Catat tugas-tugas kecil untuk menghindari kelalaian.
-
Layani semua orang dengan baik—mahasiswa, pegawai, maupun masyarakat.
Beliau juga menitipkan harapan agar para pegawai baru diberi ruang dan kesempatan terlibat dalam berbagai kegiatan guna menumbuhkan rasa memiliki terhadap lembaga.
Di hari perpisahannya, ucapan terima kasih dan doa mengalir dari rekan-rekan kerja melalui berbagai grup percakapan. “Terima kasih Bang Eka, mohon maaf jika ada salah kata. Semoga selalu dalam keberkahan Allah,” tulis salah seorang rekan. Dengan penuh kerendahan hati, Eka membalas, “Saya atas nama pribadi mohon maaf lahir batin. Terima kasih atas kebersamaan selama ini. Semoga kita semua diberi kekuatan lahir batin. Aamiin.”
Bagi sebagian orang, bekerja adalah rutinitas. Namun bagi Eka Wahyudi, bekerja adalah perjalanan batin—tentang keikhlasan, kesederhanaan, dan memberi manfaat. Beliau memang telah purna tugas, tetapi keteladanan serta nilai-nilai yang ditinggalkan akan terus hidup dan mengalir, sebagaimana moto hidup yang selalu beliau pegang.
Selamat menikmati masa purnabakti, Eka Wahyudi. Terima kasih atas 33 tahun pengabdian yang penuh makna.
Penulis: Erika SM
Editor: Bambang

