Mempawah (iainptk.ac.id) 13 November 2025 — Program Studi Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana IAIN Pontianak melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Karya Ilmiah (PKM-KI) di Pondok Pesantren Al-Qomar, Kabupaten Mempawah. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta: Strategi Pencegahan Kekerasan di Lembaga Pendidikan Pesantren.”
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mempawah, I. Pohan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Pascasarjana IAIN Pontianak. Ia menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini penting dalam penguatan karakter peserta didik serta membangun sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kurikulum berbasis cinta dapat mengubah paradigma pendidikan pesantren menjadi lebih inklusif dan membina. Sistem hukuman yang keras bisa diganti dengan pendekatan yang lebih mendidik, sehingga melahirkan santri yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat,” ujar I. Pohan.
Ia juga berharap hasil dari kegiatan PKM-KI ini tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi rekomendasi dan praktik nyata di lembaga pendidikan Islam di daerah. “Harapan kami, hasil penelitian dan gagasan yang muncul dari kegiatan ini bisa diterapkan di pesantren-pesantren lain, serta menjadi contoh bagi lembaga pendidikan di Kalimantan Barat,” tambahnya.
Sementara itu, KH Khairi menilai bahwa kurikulum berbasis cinta merupakan pendekatan yang relevan untuk mencegah berbagai kasus kekerasan di lembaga pendidikan. “Kita semua sedih melihat berbagai kasus kekerasan di lembaga pendidikan, dari Jakarta hingga Papua. Kurikulum berbasis cinta bisa menjadi solusi agar lembaga pendidikan, khususnya pesantren, mampu melahirkan santri yang unggul, berprestasi, dan bermanfaat bagi bangsa,” ujarnya.
KH Khairi juga menekankan pentingnya konsistensi pembentukan karakter santri meskipun mereka telah selesai menempuh pendidikan di pesantren. Menurutnya, menjadi santri bukan sekadar status, tetapi identitas moral yang harus terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat. “Santri itu tidak pernah berhenti menjadi santri. Nilai-nilai kepesantrenan harus tetap hidup di mana pun berada. Masyarakat memandang santri bukan hanya ahli agama, tetapi juga teladan dalam perilaku,” tambahnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sueib, mahasiswa Program Doktoral Pascasarjana IAIN Pontianak sekaligus anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya pembentukan karakter santri sebagai bagian dari pembangunan moral bangsa. “Menjadi santri adalah anugerah. Tidak semua orang memiliki kesempatan itu. Karena itu, karakter santri harus tetap melekat meski telah menjadi alumni pesantren,” ujarnya.
“Santri bukan hanya belajar ilmu agama, tetapi juga membangun kepribadian yang kuat dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Di era global, kita tidak boleh membenci ilmu apa pun. Semua ilmu saling berkaitan dan bermanfaat bila dikelola dengan hati yang ikhlas,” lanjutnya.
Sueib juga mengapresiasi inisiatif IAIN Pontianak dalam membawa semangat akademik ke ranah pengabdian masyarakat. Ia menilai kegiatan ini memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga keagamaan dalam membangun generasi muda berkarakter cinta damai.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sapendi, M.Pd., selaku narasumber utama, memaparkan urgensi penerapan kurikulum berbasis cinta di lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya berkaitan dengan materi ajar, tetapi juga membangun relasi kasih sayang antara guru dan peserta didik.
“Kurikulum berbasis cinta adalah paradigma pendidikan yang menempatkan nilai kasih, empati, dan penghargaan terhadap kemanusiaan sebagai inti pembelajaran. Ini menjadi strategi efektif mencegah kekerasan dan perundungan di dunia pendidikan,” jelas Dr. Sapendi, M.Pd.
Ia menambahkan bahwa dunia pendidikan Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya kasus kekerasan di sekolah dan pesantren. Karena itu, pendidikan berbasis cinta menjadi solusi yang relevan dan selaras dengan nilai-nilai Islam.
Kegiatan PKM-KI ini menjadi bagian dari komitmen akademisi IAIN Pontianak untuk memperkuat sinergi antara dunia kampus dan lembaga pendidikan Islam di daerah, khususnya dalam membangun generasi santri yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Editor : BEP

