IAIN Pontianak

Jelang HUT RI, Rektor IAIN Pontianak Sampaikan Kajian Syukur dan Makna Kemerdekaan di Masjid Raya Mujahidin

Pontianak (iainptk.ac.id) Minggu, 16 Agustus 2026 – Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., menyampaikan kajian ba’da Magrib di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Minggu (16/8/2026). Mengusung tema pentingnya bersyukur, kajian ini turut dikaitkan dengan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus.

Dalam kajiannya, Prof. Wajidi mengawali dengan hadis riwayat Aisyah ra. (HR. Bukhari dan Muslim) tentang kebiasaan Rasulullah SAW mendirikan sholat malam yang begitu panjang hingga kedua kakinya bengkak. “Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Nabi SAW di antara kebiasaannya adalah sholat malam yang begitu panjang sampai bengkak kedua kakinya. Lalu Aisyah bertanya kepada Nabi, ‘Mengapa engkau melakukan seperti ini?’ Nabi menjawab, ‘Apakah tidak sepantasnya aku ini menjadi seorang hamba yang bersyukur?'” ujar Prof. Wajidi mengutip hadis tersebut.

Ia menjelaskan di dahapan jamaah, hadis ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW yang telah terpelihara dari dosa (ma’shum) tetap mempertahankan ibadahnya secara istiqomah, sehingga menjadi teladan bagi umatnya. “Hadis ini memberi pelajaran bahwa kita beribadah kepada Allah hakikatnya bukan sekadar takut masuk neraka, bukan semata-mata mengharap pahala. Memperbanyak ibadah merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah,” jelasnya.

Prof. Wajidi juga menyampaikan bahwa salah satu ciri hamba yang diridhoi Allah adalah kemampuannya bersyukur atas hal sekecil apa pun. “Karakteristik hamba yang diridhoi Allah, yaitu tahu bersyukur pada hal sekecil apa pun,” ungkapnya.

Mengaitkan dengan momentum kemerdekaan, Prof. Wajidi mengajak jemaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia. Menurutnya, bersyukur terhadap kemerdekaan merupakan perintah agama, karena sebagai umat beragama terdapat lima hal pokok (al-kulliyat al-khams) yang wajib dijaga, yakni menjaga agama, menjaga nyawa, menjaga akal, menjaga keluarga, dan menjaga harta benda. “Karena lima hal ini semua bisa kita jalankan kalau kita hidup di negara yang merdeka,” tegasnya.

Selanjutnya, Prof. Wajidi menyampaikan hadis riwayat Tirmidzi dari Hudzaifah bin Yaman ra. yang menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik, melainkan juga kemerdekaan jiwa. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW tentang larangan menjadi pribadi imma’ah. “Janganlah engkau menjadi seorang yang imma’ah, yaitu orang yang mengatakan, ‘Jika orang berbuat baik, saya juga berbuat baik. Tapi jika orang berbuat zalim, kami juga berbuat sama.’ Rasul berpesan, teguhkanlah pendirian dalam jiwa, hati, dan pikiran,” ujarnya.

Sebagai penutup, Prof. Wajidi menyampaikan hadis qudsi riwayat Muslim dari Abu Dzar Al-Ghifari ra. tentang larangan berbuat zalim. “Rasul bersabda, bahwa Allah berfirman, ‘Wahai hamba-hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikan kezaliman itu haram dilakukan atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi,'” ungkapnya.

Prof. Wajidi menegaskan bahwa momentum kemerdekaan bagi bangsa Indonesia sejatinya dapat menjadi pengingat untuk senantiasa berbuat hal-hal positif, agar terhindar dari segala bentuk kezaliman. “Sekali lagi, kemerdekaan bagi bangsa Indonesia sejatinya bisa menjadi momentum senantiasa berlaku hal-hal positif supaya terhindar dari segala macam kezaliman,” pungkasnya.

Penulis : Fahri (Humas Intenship)
Editor : Bambang

Scroll to Top