LP2M IAIN Pontianak Gandeng Puslitbang Lakukan Penelitian Dinamika Penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Dayak Kanayatn

0
36 views

PONTIANAK (www.iainptk.ac.id)—LP2M IAIN Pontianak menggandeng Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menggarap Penelitian dan Penulisan Dinamika Penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Dayak Kanayatn: Sebuah Pengalaman Unik.

Hadir dalam kesempatan tersebut Peneliti Utama, Drs. Choirul Fuad Yusuf, MA dan Peneliti Muda, Reza Perwira, S.Th.I yang melakukan monitoring Penelitian Dinamika Penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Daerah, Selasa (6/8) di Ruang Rapat LP2M.

Dalam kesempatan itu, Peneliti Utama, Drs. Choirul Fuad Yusuf, MA menyampaikan jika salah satu upaya peningkatan peran, fungsi al-Qur’an dalam pembangunan agama, maka Puslitbang Lektur & Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, sejak tahun 2011 melaksanakan program Penerjemahan Al Qur’an ke dalam Bahasa Daerah. Tercatat sejak tahun 2012-hingga kini sudah diselesaikan penerjemahan dan penerbitan al-Qur’an berbagai bahasa daerah di Indonesia, di antaranya yaitu Terjemahan al Qur’an bahasa: Kaili, Sasak, Makassar, Banjar,  Minang, Ambon, Bali, Banyumasan Madura, Bugis dan Aceh, dan Dayak (Kanayatn).

Ia pun menjelaskan tujuan dari penelitian ini yaitu mendekripsikan penyelenggaraan program/kegiatan penerjemahan Al-Qur’an (teks bahasa sumber) ke dalam bahasa daerah (teks bahasa target) serta menuliskan fakta yang terjadi dalam proses kerja yang terjadi (ex post facto).

“Penelitian ini akan mengungkap proses penerjemahan Al-Qur’an bahasa Dayak Kanayatn secara detail mulai dari awal munculnya gagasan sampai dengan launching.” Ia menambahkan, fokus dalam riset ini yang dapat menjadi rujukan dalam penggalian dan pengayaan data yaitu pemilihan/penentuan dialek bahasa daerah; penentuan pendekatan dan metoda penerjemahan yang dipergunakan; Penerjemahan istilah-istilah ekuivokal; Menerjemahkan kalimat yang “debatable, multi-interpretable” secara linguistikal, kultural, maupun teologis agar hasilkan terjemahan yang memiliki tingkat keabsahan (validity), kecermatan/ketepatan (accuracy), keterterimaan (acceptability), dan keterbacaan (readability) yang tinggi; Mengungkap  pengalaman kesulitan pembahasan dan pencarian kompromi terjemahan; Mendeskripsikan kesulitan/hambatan administratif.

Penulis: Septian Utut
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here