Qufu, Shandong, Tiongkok (iainptk.ac.id) Minggu, 5 Juli 2026 – Kota Qufu selama ini lebih dikenal sebagai tempat kelahiran filsuf besar Konfusius dan pusat lahirnya peradaban Konfusianisme. Namun, di balik identitas tersebut, kota ini juga menyimpan jejak panjang kehidupan komunitas Muslim yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat setempat selama berabad-abad.
Pengalaman itulah yang kini sedang ditelusuri oleh Prof. Dr. Samsul Hidayat, M.A., dosen IAIN Pontianak, melalui keikutsertaannya dalam Qilu Visiting and Research Residency Program yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI) di Qufu, Provinsi Shandong.
Selain mengikuti rangkaian penelitian, diskusi akademik, mengajar, dan pertukaran gagasan bersama para sarjana dari berbagai negara, Prof. Samsul memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan observasi lapangan mengenai kehidupan masyarakat Muslim di Kota Konfusius. Baginya, memahami suatu peradaban tidak cukup hanya melalui literatur, tetapi juga melalui pengalaman langsung dan dialog dengan masyarakat.
“Saya ingin melihat bagaimana Islam hidup dan berkembang di kota yang selama ini dikenal sebagai pusat peradaban Konfusianisme. Pengalaman lapangan sering kali memberikan pemahaman yang tidak ditemukan di dalam buku,” ujar Prof. Samsul.
Selama berada di Qufu, ia mengunjungi kawasan permukiman Muslim, restoran halal, hingga Masjid Qufu yang menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Hui. Dari berbagai kunjungan tersebut, ia menemukan bahwa identitas keislaman tetap terpelihara di tengah lingkungan budaya yang sangat kuat dipengaruhi nilai-nilai Konfusianisme.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat berdialog dengan Ma Shifu (马师傅), pemilik restoran halal Qīngzhēn Lánzhōu Niúròu Lāmiàn (清真兰州牛肉拉面). Dalam perbincangan itu, Ma Shifu menjelaskan bahwa menjaga kehalalan makanan dan memberikan pelayanan terbaik merupakan prinsip yang selalu dipegang dalam menjalankan usaha.
“Sebagai Muslim kami harus menjaga makanan tetap halal dan memberikan pelayanan yang baik kepada setiap pelanggan,” kata Ma Shifu.
Menurut Prof. Samsul, jawaban sederhana tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam etika bekerja, melayani pelanggan, dan membangun hubungan dengan masyarakat.
Ia juga mengamati bahwa restoran halal di Qufu tidak hanya dikunjungi oleh warga Muslim. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk menikmati kuliner khas, sekaligus mengenal kehidupan masyarakat Muslim di kota yang menjadi destinasi wisata budaya dunia tersebut.
“Restoran halal menjadi ruang perjumpaan yang menarik. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga berinteraksi, berdialog, dan mengenal budaya yang berbeda,” ujarnya.

Selama melakukan observasi, Prof. Samsul menemukan bahwa komunitas Muslim di Qufu hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat setempat. Aktivitas keagamaan berlangsung sebagaimana mestinya, sementara interaksi sosial dan ekonomi terus berjalan dengan baik. Sikap saling menghormati tampak dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan usaha maupun di ruang-ruang publik.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru mengenai hubungan Islam dan budaya Tiongkok. Selama ini, masyarakat Indonesia lebih banyak mengenal Qufu sebagai kota warisan Konfusius, padahal di kota yang sama juga tumbuh komunitas Muslim yang tetap mempertahankan identitas keagamaannya sambil beradaptasi dengan budaya lokal.
“Banyak orang hanya mengenal Qufu dari sisi sejarah Konfusius. Padahal, di kota ini kita juga dapat melihat bagaimana komunitas Muslim menjalankan kehidupan beragama, membangun usaha, dan berinteraksi secara harmonis dengan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Ia menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa dialog antarperadaban tidak selalu berlangsung melalui forum resmi atau konferensi akademik. Dialog juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, melalui pelayanan di restoran halal, interaksi di pasar, percakapan dengan masyarakat lokal, maupun aktivitas di masjid.
Bagi Prof. Samsul, perjalanan di Qufu bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung bagaimana nilai-nilai agama, budaya, dan kemanusiaan bertemu dalam praktik kehidupan masyarakat. Pengalaman itu memperkaya pemahaman tentang Islam di Tiongkok sekaligus membuka ruang bagi kerja sama akademik dan pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Tiongkok.
Melalui Qilu Visiting and Research Residency Program, ia berharap semakin banyak akademisi Indonesia yang dapat melakukan penelitian lapangan di Qufu. Menurutnya, pendekatan langsung kepada masyarakat akan menghasilkan pemahaman yang lebih utuh dibanding hanya mengandalkan sumber tertulis.
“Setiap perjalanan ilmiah selalu menghadirkan pelajaran baru. Di Qufu saya tidak hanya menemukan jejak sejarah Konfusius, tetapi juga menemukan wajah Islam yang ramah, terbuka, dan hidup berdampingan secara harmonis dengan budaya lokal. Pengalaman seperti inilah yang layak dibagikan kepada masyarakat Indonesia,” tutup Prof. Samsul.
Kontributor : FEBI
Editor : Bambang


