IAIN Pontianak

Pendidikan Bahasa di Era AI Jadi Fokus International Guest Lecture FTIK IAIN Pontianak

Pontianak (iainptk.ac.id) 13 Januari 2026 — Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak menyelenggarakan International Guest Lecture bertema Transformasi Pembelajaran Bahasa Asing dalam Era Kecerdasan Buatan pada Selasa 13 Januari 2026 di Aula FTIK IAIN Pontianak. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi akademik melalui kolaborasi antara IAIN Pontianak dan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS).

Kegiatan akademik bertaraf internasional tersebut menghadirkan narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Dekan Fakulti Pendidikan, Bahasa dan Komunikasi Universiti Malaysia Sarawak, Dr. Dilah bin Tuah, serta dosen FTIK IAIN Pontianak Dr. Sahrani, M.Pd. Acara turut dihadiri Dekan FTIK IAIN Pontianak Prof. Dr. H. Hermansyah, M.Ag., Wakil Dekan 1 FTIK Eka Hendry AR, S.Ag., S.Pd., M.Si., dosen, dan mahasiswa IAIN Pontianak.

Dalam sambutan pembuka, Prof. Dr. H. Hermansyah, M.Ag. menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi UNIMAS dan menegaskan bahwa International Guest Lecture ini merupakan ruang strategis untuk memperluas wawasan global mahasiswa. Beliau berharap kegiatan ini dapat berlanjut pada kerja sama akademik yang lebih konkret, termasuk kunjungan mahasiswa IAIN ke UNIMAS. Acara kemudian secara resmi dibuka dengan bacaan basmalah.

Pada sesi pemaparan utama, Dr. Dilah bin Tuah mengulas perkembangan pemanfaatan artificial intelligence dalam dunia pendidikan, khususnya di Sarawak. Beliau menjelaskan bahwa Sarawak mulai mengembangkan ekosistem kecerdasan buatan dengan mendorong penulisan buku berbasis bahasa lokal yang dikemas dalam format digital agar dapat terintegrasi ke dalam sistem AI. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bahasa lokal di tengah arus globalisasi teknologi.

Dr. Dilah bin Tuah juga menekankan urgensi penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang menjadi bahasa dominan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global. Menurut beliau, dosen dituntut untuk tidak hanya memahami kecerdasan buatan secara teknis, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kritis dan pedagogis. “Fokus pembelajaran tidak boleh berhenti pada tampilan presentasi yang menarik, melainkan harus kembali pada pemahaman mendalam terhadap asas dan fondasi keilmuan,” tegas beliau.

Lebih lanjut, Dr. Dilah bin Tuah mengingatkan bahwa peran pendidik tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan buatan. Teknologi tidak memiliki dimensi kemanusiaan, sementara guru dan dosen memiliki peran penting dalam membentuk nilai, empati, dan karakter peserta didik.

Sementara itu, Dr. Sahrani, M.Pd. menyoroti pentingnya transformasi pembelajaran bilingual dalam menghadapi era Society 5.0 yang ditandai dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Menurut beliau, mahasiswa idealnya menguasai minimal dua bahasa internasional agar mampu beradaptasi dan bersaing di tingkat global. Beliau juga menegaskan bahwa meskipun AI menjadi alat penting dalam pendidikan, interaksi tatap muka tetap menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran.
“Sesungguhnya nilai pendidikan sangat bergantung pada sejauh mana kualitas interaksi yang dibangun antara pendidik dan peserta didik,” ungkap Dr. Sahrani, M.Pd.

Melalui International Guest Lecture ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi bahasa asing mahasiswa serta menyiapkan calon pendidik yang profesional, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan.

Penulis : Fitria

Ediror : Bambang