Pontianak (iainptk.ac.id) Rabu, 12 Agustus 2026 – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., menjadi narasumber dalam siaran TVRI Kalimantan Barat pada Rabu (12/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Wajidi membahas tema “Hari Merdeka di Era AI: Bebas Berpikir atau Dikendalikan Algoritma?”
Dalam dialog tersebut, Rektor IAIN Pontianak mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan secara lebih luas, khususnya di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat. Menurutnya, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan secara lahiriah, tetapi juga mencakup kemerdekaan dalam berpikir, jiwa, dan hati.
“Merdeka pada hakikatnya adalah merdeka berpikir, merdeka jiwa dan hati, serta merdeka secara lahir dan batin,” demikian inti pemikiran yang disampaikan Prof. Wajidi dalam dialog tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong kreativitas dan produktivitas manusia. Namun, kecanggihan teknologi juga dapat menjadi persoalan apabila digunakan tanpa kebijaksanaan, etika, dan tanggung jawab.
Menurut Prof. Wajidi, AI memiliki dua sisi. Di satu sisi, kecerdasan buatan dapat membantu manusia menjadi lebih cerdas, kreatif, dan produktif. Namun, di sisi lain, penggunaan AI yang tidak terkontrol dan tidak disertai etika serta adab dapat menimbulkan dampak negatif.
Karena itu, ia menekankan pentingnya moderasi dalam menggunakan teknologi. Masyarakat, khususnya generasi muda dan mahasiswa, perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara proporsional tanpa menjadi terlalu bergantung kepadanya.
“AI harus didampingi dengan rasa tanggung jawab, terutama dalam lingkungan perguruan tinggi,” jelasnya.
Prof. Wajidi juga menyoroti pentingnya membangun kemandirian manusia di tengah perkembangan AI. Menurutnya, manusia harus mampu mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan oleh teknologi maupun algoritma.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Prof. Wajidi menegaskan bahwa IAIN Pontianak terus berupaya membangun perguruan tinggi yang memiliki daya saing global dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Meski demikian, kemajuan tersebut tetap harus berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
“Teknologi boleh canggih, tetapi nilai-nilai keagamaan harus tetap melekat karena itu menjadi pondasi,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Prof. Wajidi juga memperkenalkan IAIN Pontianak kepada masyarakat, termasuk berbagai bidang pendidikan dan kontribusi perguruan tinggi tersebut bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Ia menyampaikan harapan agar IAIN Pontianak ke depan dapat berkembang menjadi universitas. Menurutnya, perubahan tersebut akan semakin memperkuat inklusivitas pendidikan tinggi sehingga tidak hanya menghadirkan pendidikan berbasis keislaman, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi berbagai disiplin ilmu umum.
Dengan demikian, perguruan tinggi tersebut diharapkan dapat menjadi rumah besar bagi masyarakat Kalimantan Barat dalam memperoleh pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menutup pembahasannya, Prof. Wajidi mengingatkan bahwa kecerdasan yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan titipan dari Allah SWT. Karena itu, kecerdasan dan kemampuan manusia harus digunakan dengan penuh tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi Prof. Wajidi, kemerdekaan harus menjadi momentum untuk terus maju, berkembang, dan menikmati hasil kemerdekaan dengan cara yang bertanggung jawab, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.
Penulis : Acip Doang
Editor : Bambang




