IAIN Pontianak

Peneliti IAIN Pontianak Temukan Jejak Islam Abad ke-13 di Kota Kelahiran Konfusius

Qufu, Shandong, Tiongkok (iainptk.ac.id) Minggu, 5 Juli 2026 – Kota Qufu selama ini dikenal sebagai tanah kelahiran Konfusius dan pusat perkembangan peradaban Konfusianisme di Tiongkok. Namun di balik identitas tersebut, kota ini juga menyimpan jejak panjang perkembangan Islam yang diperkirakan telah hadir sejak abad ke-13 Masehi.

Temuan itu diperoleh Prof. Dr. Samsul Hidayat, M.A., dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, saat mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program yang diselenggarakan Confucius Research Institute (CRI) di Provinsi Shandong, Tiongkok.

Melalui penelusuran terhadap berbagai panel sejarah, dokumen museum, dan wawancara dengan Imam Masjid Qufu (曲阜清真寺/Qūfù Qīngzhēnsì), H. Irsa (Yuan Caidong), Prof. Samsul menemukan bahwa keberadaan Islam di Qufu memiliki sejarah yang jauh lebih tua dibandingkan yang selama ini dikenal masyarakat Indonesia.

Salah satu panel sejarah menjelaskan bahwa sejumlah akademisi Tiongkok meyakini Islam mulai memasuki Qufu pada masa Dinasti Yuan, sekitar tahun 1235 Masehi. Dugaan tersebut didasarkan pada berbagai bukti sejarah, termasuk penemuan batu nisan kuno bertuliskan aksara Persia, catatan perjalanan, serta penelitian para sejarawan mengenai migrasi komunitas Muslim ke wilayah Shandong.

Dalam dokumentasi museum dijelaskan bahwa pada masa ekspansi Kekaisaran Mongol, banyak tentara, pedagang, pengrajin, dan cendekiawan Muslim dari Asia Tengah serta Persia memasuki Tiongkok melalui Jalur Sutra. Sebagian di antaranya menetap di wilayah Shandong, termasuk di Qufu yang ketika itu berkembang sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

“Informasi ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa sejarah Islam di Qufu jauh lebih tua daripada yang banyak diketahui masyarakat. Islam ternyata telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kota ini sejak berabad-abad lalu,” ujar Prof. Samsul.

Panel sejarah tersebut juga mengutip hasil penelitian sejumlah akademisi Tiongkok yang menyebut bahwa keberadaan tulisan Persia pada batu nisan abad ke-13 menjadi salah satu bukti penting interaksi antara komunitas Muslim dengan masyarakat lokal pada masa awal penyebaran Islam di kawasan tersebut.

Menurut Prof. Samsul, keberadaan bukti arkeologis dan dokumen sejarah tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran Islam di Tiongkok tidak hanya berlangsung melalui jalur perdagangan, tetapi juga melalui pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan interaksi sosial.

“Islam datang bersama para pedagang, ulama, ilmuwan, pengrajin, dan masyarakat yang ikut membangun peradaban. Hal itu tampak jelas dalam narasi sejarah yang dipaparkan di Qufu,” katanya.

Temuan lain yang menarik adalah bagaimana perkembangan Islam di Qufu berlangsung berdampingan dengan tradisi Konfusianisme yang telah lebih dahulu berkembang. Berbagai panel museum memperlihatkan bahwa interaksi kedua tradisi tersebut berlangsung melalui hubungan sosial, pendidikan, hingga kehidupan ekonomi masyarakat.

Dalam wawancara terpisah, Imam Masjid Qufu, H. Irsa (Yuan Caidong), menjelaskan bahwa hingga kini komunitas Muslim tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Qufu. Menurutnya, hubungan dengan masyarakat sekitar berlangsung harmonis dan saling menghormati.

Ia juga menegaskan bahwa sejarah Islam di Qufu terus didokumentasikan oleh para akademisi lokal bersama peneliti dari Confucius Research Institute agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Bagi Prof. Samsul, dokumentasi sejarah tersebut memiliki arti penting tidak hanya bagi masyarakat Tiongkok, tetapi juga bagi dunia Islam secara umum.

“Selama ini perhatian kita banyak tertuju pada sejarah Islam di Timur Tengah atau Asia Tenggara. Padahal, Qufu memberikan pelajaran bahwa Tiongkok juga memiliki warisan sejarah Islam yang panjang dan kaya, bahkan tumbuh berdampingan dengan pusat peradaban Konfusianisme,” ujarnya.

Melalui Qilu Visiting and Research Residency Program, Prof. Samsul terus melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber sejarah, arsip, museum, serta melakukan wawancara dengan tokoh agama dan akademisi di Qufu. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memperkaya kajian hubungan Islam dan Konfusianisme sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia bahwa Kota Qufu tidak hanya dikenal sebagai kota Konfusius, tetapi juga sebagai salah satu simpul penting dalam perjalanan panjang sejarah Islam di Tiongkok.

Kontributor : FEBI

Editor : Bambang

Scroll to Top