IAIN Pontianak

Pembuatan Modul Visual Literasi Isyarat Diperkuat Penandatangan Kesepakatan dan Komitmen Bersama

Pontianak (iainptk.ac.id) Senin, 26 Oktober 2026 – Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pembuatan Modul Visual Literasi Isyarat” digelar oleh Kelompok ADER Linguistik melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Karya Ilmiah (PKM-KI) Program Studi Magister Studi Islam (MSI) Pascasarjana IAIN Pontianak, bekerja sama dengan Maktab Tuli As-Sami Pontianak. Kegiatan yang menghadirkan delapan pakar di bidangnya masing-masing ini berjalan sukses dan lancar.

Kegiatan dilaksanakan di Aula Perpustakaan Kota Pontianak, Jalan Ampera, pada Sabtu (24/10). Para narasumber sekaligus peserta FGD terdiri atas pakar di bidangnya masing-masing, yaitu pakar keagamaan dan fikih, Gito Saroso; pakar ilmu komunikasi dan inklusi, Suci Lukitowati; pembinaan PKBI, Syf. Aryana Kaswamayana; pakar Pancasila dan dasar negara, Arief Adi Purwoko; pakar mitigasi lingkungan, Usep Gunawan; Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO) Kalimantan Barat, Lidya Alvani Taslim; psikolog dan konseling, Citra Amelia; Unit Disabilitas dan Layanan Inklusi IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto; serta penggiat disabilitas, M. Fakrul Maulana. Hadir pula perwakilan mahasiswa PKM-KI MSI Pascasarjana IAIN Pontianak dan dosen pembimbing.

FGD berlangsung sederhana. Juru bahasa isyarat (JBI) dan teman Tuli turut hadir untuk membantu memberikan masukan dalam menemukan diksi atau kata isyarat, baik satu kata maupun lebih, yang sesuai dengan kebutuhan anak Tuli pada jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Setelah melalui diskusi terfokus yang terstruktur dan sistematis, dirumuskanlah modul visual literasi isyarat bagi teman Tuli yang mencakup penerimaan orang tua, isyarat komunikasi dasar, pengenalan diri, akademik dasar, isyarat keagamaan, penyadartahuan dan Pancasila, serta literasi digital.

Urutan konsep bahan ajar isyarat bagi pengguna Tuli tersebut telah divalidasi oleh psikolog dan disesuaikan dengan kebutuhan Tuli berdasarkan perspektif para pakar yang hadir. Sejumlah pakar juga merespons positif gagasan pembuatan modul ini. Gagasan tersebut tidak sekadar ditampung, tetapi diwujudkan secara nyata dalam bentuk isyarat visual, gambar, gerakan, teks, dan sebagainya.

Pakar keagamaan dan fikih sekaligus dosen IAIN Pontianak, Gito Saroso, sangat mengapresiasi gagasan gerakan konkret ini. Ia berharap modul yang baru dirumuskan tersebut dapat segera diaktualisasikan dan dipraktikkan, terutama bagi mereka yang memiliki hambatan tertentu, khususnya Tuli, yang selama ini mengalami hambatan komunikasi dan interaksi, bahkan kesulitan dalam mengenal agama dan pengetahuan keislaman, mulai dari tauhid, ibadah, akhlak, dan lainnya.

Dr. Muh. Gito Saroso, M.Ag., saat menandatangani Lembar Kesepakatan dan Komitmen Bersama

“Alhamdulillah, sangat bermanfaat, terutama bagi saudara kita yang memiliki hambatan tertentu. Mudah-mudahan bisa terwujud dan digunakan sebagaimana mestinya untuk menolong saudara-saudara kita agar lebih baik dan lebih maju ke depannya, serta sukses untuk mahasiswa PKM-KI,” ungkapnya.

Senada dengan pakar keagamaan dan fikih, dosen IAIN Pontianak yang mewakili perspektif Pancasila dan dasar negara, Arief Adi Purwoko, mengapresiasi kegiatan ini dan menilainya sangat penting, mengingat kondisi warga negara Tuli hingga kini masih memerlukan perhatian. Menurutnya, Pancasila bersifat abstrak sehingga sulit diisyaratkan. Namun, upaya memberikan aksesibilitas harus tetap dilakukan dengan menemukan visualisasi isyarat agar teman Tuli dapat mengetahui, mengenali, dan memahami dasar negara tersebut. Ia menyebut hal ini menarik dan berharap pemanfaatan modul tidak hanya di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga mendunia.

Arief Adi Purwoko, M.Sc., saat menandatangani Lembar Kesepakatan dan Komitmen Bersama

“Semoga ini dapat diwujudkan dalam bentuk modul. Apa yang ditandatangani hari ini menjadi manfaat bagi seluruh Kalimantan Barat, Indonesia, dan dunia,” ungkapnya dengan tegas dan optimistis.

Melengkapi hal tersebut, kondisi lingkungan juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Ekonomi dan lingkungan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi. Karena itu, teman disabilitas, khususnya teman Tuli, masih mengalami kesulitan dalam hal mitigasi lingkungan sehingga isyarat tentang lingkungan menjadi sangat penting.

Pakar lingkungan, Usep Gunawan, mengapresiasi penyelenggaraan FGD Pembuatan Modul Visual Literasi Isyarat yang melibatkan unsur lingkungan, terlebih daerah ini hampir setiap tahun tidak lepas dari masalah banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan sebagainya.

Usep Gunawan, M.Ling., saat menandatangani Lembar Kesepakatan dan Komitmen Bersama

“Kepada penyelenggara, saya bersyukur karena dilibatkan dalam kegiatan ini. Kami juga sudah berdiskusi panjang untuk menemukan kata-kata dalam modul isyarat nantinya, dalam konteks kesederajatan dan lingkungan,” jelasnya penuh optimisme.

Dari bidang lingkungan, Usep Gunawan menawarkan materi isyarat untuk modul tersebut, yaitu penyadartahuan lingkungan, agar teman Tuli menyadari pentingnya lingkungan dan memahami hubungan manusia dengan lingkungannya.

“Harapannya ke depan, hal-hal yang biasa terjadi di Pontianak, seperti banjir dan kebakaran hutan, dapat diketahui oleh teman-teman Tuli, dan mereka dapat mengetahui cara meminimalkan dampaknya sebagai pribadi,” tandasnya.

Penulis: Tim ADER Linguistik (PKM-KI IAIN Pontianak)
Romdlon
Elis Nurhadijah
Dwi Pratiwi
Aisyah Hamidah

Scroll to Top