IAIN Pontianak

IAIN Pontianak Gelar Pembukaan Kegiatan Alih Bentuk Menjadi UIN, Gubernur Kalbar Siapkan Dukungan Lahan

Pontianak (iainptk.ac.id) Selasa, 27 Oktober 2026 – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menggelar pembukaan rangkaian kegiatan persiapan alih bentuk IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Abdul Rani IAIN Pontianak yang dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat sebagai bentuk dukungan terhadap rencana transformasi kelembagaan perguruan tinggi Islam.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Oktober 2026. Kegiatan hari pertama dilaksanakan di Aula Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak, sedangkan agenda pada 28–29 Oktober dijadwalkan berlangsung di Hotel Orchard, Jalan Gajah Mada, Pontianak.

Dalam sambutannya, Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kalimantan Barat atas dukungan yang telah diberikan terhadap proses transformasi IAIN Pontianak menjadi UIN. Ia mengatakan, dukungan pemerintah sangat diperlukan untuk mewujudkan perubahan status tersebut, terutama dalam mengatasi persoalan keterbatasan lahan kampus.

“Kami sangat berharap dukungan dan bantuan pemerintah, khususnya di era Bapak Gubernur, betul-betul bisa direalisasikan sehingga segera terwujud kampus baru,” ujar Wajidi.

Ia menjelaskan bahwa salah satu kendala yang selama ini dihadapi dalam proses alih bentuk adalah keterbatasan lahan. pemenuhan kebutuhan lahan menjadi bagian penting agar persyaratan perubahan status kelembagaan dapat dipenuhi.

“Permasalahan yang kami hadapi selama ini salah satunya adalah kekurangan lahan. Ketika lahan ini sudah bisa terpenuhi di atas 10 hektare, maka syarat tersebut sudah terpenuhi, terutama untuk mengusulkan alih bentuk menjadi UIN,” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menyampaikan dukungannya terhadap rencana alih bentuk IAIN Pontianak menjadi UIN. Ia menilai perubahan status tersebut berpotensi memperluas pengembangan program studi umum dan mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Barat.

Ia juga menyoroti kebutuhan lahan sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan kampus. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah mencari lokasi yang berpotensi digunakan untuk pengembangan kampus

“Kalau bisa, kita wujudkan status UIN ini pada tahun 2027 atau 2028. Untuk lokasinya, kemarin saya sudah berkeliling mencari lokasi yang ada di dalam kota. Alhamdulillah, kemarin ketemu,” ujar Ria Norsan dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa lokasi yang ditemukan berada di sekitar kawasan sebelum UNU Namun, luas lahan tersebut masih perlu dipastikan lebih lanjut agar sesuai dengan kebutuhan pengembangan kampus.

“Yang jelas, ini kan kurangnya satu hektare. Tapi kita tidak boleh menyiapkan satu hektare saja. Kita tentu harus memikirkan pengembangan untuk 20 tahun ke depan,” katanya.

Menurut Ria Norsan, penyediaan lahan perlu mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang agar pengembangan universitas dapat berjalan secara optimal. Ia juga menyampaikan bahwa lokasi tersebut perlu ditinjau bersama pihak rektorat sebelum keputusan lebih lanjut diambil.

“Insyaallah, kalau Pak Rektor ada waktu, kita lihat dulu. Kalau cocok, insyaallah kita hibahkan,” tuturnya.

Ketua panitia, Prof. Dr. Erwin, M.Ag dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya untuk mempersiapkan perubahan status IAIN Pontianak menjadi UIN. Menurutnya, transformasi tersebut tidak hanya menyangkut perubahan nama atau penambahan fakultas dan program studi, tetapi juga pengembangan keilmuan dan penguatan peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.

“Alih bentuk bukan semata-mata perubahan nama atau penambahan fakultas atau program studi, melainkan langkah strategis untuk memperluas ruang akademik, memperkuat integrasi ilmu keislaman dengan sains dan teknologi, serta meningkatkan kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Erwin

Ia juga menambahkan, persiapan menuju UIN membutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, mulai dari kelembagaan, akademik, sumber daya manusia, tata kelola, hingga sarana dan prasarana. Rangkaian kegiatan tersebut memiliki empat agenda utama. Pertama, forum akademik mengenai penamaan UIN. Kedua, seminar paradigma keilmuan yang membahas landasan pengembangan ilmu keislaman, sains, dan teknologi secara integratif. Ketiga, perumusan visi, misi, strategi, dan sasaran universitas. Keempat, perancangan desain logo sebagai identitas visual universitas.

Ia juga menegaskan bahwa hasil pembahasan dalam forum akademik akan menjadi bahan pertimbangan dan rekomendasi bagi proses transformasi kelembagaan.
“Penetapan nama, paradigma, identitas visual, dan keputusan kelembagaan tetap akan mengikuti mekanisme dan kewenangan yang ada,” jelasnya.

Dalam rangka transformasi kelembagaan menuju UIN, IAIN Pontianak membahas lima usulan nama. Setiap usulan dipaparkan oleh seorang pemapar secara bergiliran, dengan Dr. Zulkifli, M.A. sebagai moderator.

Usulan pertama, UIN Syekh Ahmad Khatib As-Sambasi (UIN SAKA), dipaparkan oleh Prof. Dr. Erwin, M.Ag. Usulan kedua, UIN Syekh Ismail Mundu, dipaparkan oleh Dr. Patmawati, M.Ag. Selanjutnya, usulan ketiga, UIN Khatulistiwa, dipaparkan oleh Dr. Syamsul Kurniawan, M.S.I., usulan keempat, UIN Sultan Hamid II, oleh Eka Hendry AR, S.Ag., S.Pd., M.Si. Usulan terakhir, UIN Pontianak, dipaparkan oleh Dr. Syahbudi, S.Ag., M.Ag.

Penulis : Nana (Gen HI)

Editor : Bambang

Scroll to Top