Pontianak (iainptk.ac.id) Senin, 2 November 2026 – Ketua Yayasan Bhakti Arumi Delangga – Maktab Tuli As-Sami menyampaikan RTL setidaknya sembilan pakar-ahli ikut membersamai perumusan modul visual literasi isyarat bagi Teman Tuli. Modul ini diinisiasi oleh Kelompok ADER Linguistik PKM-KI Magister Studi Islam (MSI) Pascasarjana IAIN Pontianak bekerja sama dengan Maktab Tuli As-Sami. Perumusan dilakukan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pembuatan Modul Visual Literasi Isyarat” di Pontianak. Sebagai langkah konkret, FGD ini juga menyepakati pelaksanaan Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar program berkelanjutan dan terintegrasi.
RTL disampaikan oleh Ketua Yayasan Bhakti Arumi Delangga – Maktab Tuli As-Sami. Pelaksanaan PKM-KI terbatas oleh waktu, sehingga RTL memerlukan komitmen para pihak terkait untuk mengawal pembuatan modul hingga tuntas, mulai dari proses cetak sampai distribusi kepada pengguna. Komitmen terhadap keberlanjutan karya inklusif tersebut direspons positif oleh Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak.
Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, menyatakan bahwa lembaganya siap penuh mengawal dan mendampingi RTL perumusan modul ini. Tujuannya agar modul tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi segera dapat dioperasionalkan hingga tahap pencetakan dan soft launching.
Untuk memaksimalkan hasilnya, para ahli dan pakar diminta terlibat aktif sesuai dengan peran masing-masing. Kontribusi mereka diperlukan untuk memastikan struktur modul mudah dipahami dan operasional bagi para pengguna sesuai target dan sasarannya, yakni mulai dari anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, keluarga, guru sekolah luar biasa (SLB), dan pegiat disabilitas. Modul ini juga diharapkan dapat direplikasi sebagai media pembelajaran yang lebih luas dan inklusif.
RTL dinilai sangat krusial untuk memastikan seluruh pakar, praktisi, dan pemangku kepentingan yang terlibat sejak awal, mulai dari akademisi, psikolog, Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo), dan juru bahasa isyarat (JBI) hingga Teman Tuli, tetap membersamai proses ini sampai tuntas.
Langkah ini diambil untuk menepis kesan bahwa program pengabdian atau pembuatan modul kerap terjebak pada formalitas seremonial semata. Dengan pengawalan ketat dari Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak, modul ini dipastikan lahir sebagai produk literasi yang matang secara substansi, valid secara metodologi, dan siap diaplikasikan secara luas di tengah masyarakat.
Melalui sinergi yang berkelanjutan ini, Modul Visual Literasi Isyarat diharapkan segera naik cetak dan diluncurkan secara resmi. Modul ini diharapkan menjadi mercusuar baru bagi pendidikan inklusif yang berkeadilan serta memberikan akses literasi yang setara dan bermartabat bagi Teman Tuli di Kalimantan Barat maupun di tingkat nasional.
Tim Penulis Kelompok ADER Linguistik: Aisyah Hamidah, Dwi Pratiwi, Elis Nurhadijah, dan Romdlon.
