Pontianak, (iainptk)–Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak menggelar kuliah umum dengan tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Islam di Kalimantan Barat”. Kegiatan itu diselenggarakan di Ruang Auditorium Syeikh Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak, Rabu (31/10).

Tampak Dekan, para Wakil Dekan, para Ketua Jurusan dan ratusan mahasiwa FTIK memadati kegiatan tersebut yang dirangkaikan dengan penandatanganan MoA bersama Kemenag Kalbar. Ketua Panitia, Faisal Abdullah memaparkan bahwa acara tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa semester I. Tujuan kegiatan untuk menambah wawasan peserta terkait tema yang diusung.

Dr. Saifuddin Herlambang Wakil Rektor II mewakiliki rektor memberikan sambutan. “Mandatory pemerintah mengenai arah kebijakan pendidikan Islam di Indonesia agar bisa melakukan moderasi beragama. Tantangan hari ini dunia pendidikan Islam dihadapkan pada globalisasi pemikiran, sehingga mengharuskan kepada adik‚Äďadik mahasiswa harus bisa hidup di tengah-tengah perbedaan. Dalam hal ini dicontohkan beberapa negara yang terlibat dengan Arab Spring, hampir tidak ada satu negara Islam. Negara Islam berasaskan negara Islam yang hidup tenang kalau mereka tidak melakukan globalisasi pemikiran seperti contoh ada satu negara yang dipimpin oleh Raja Nam al Malik Asyyady Kota Maroko yang terkenal dengan peradaban pendidikan maupun pembaharuan buku itu sangat progresif sehingga di Arab Timur kalau tidak dilakukan perubahan pemikiran hukum Islam maka ummat Islam akan berseberangan dengan orang lain begitupula di Indonesia. Penyebab terjadinya karena ketidaksiapan Islam, berhadap-hadapan dengan obside dengan orang pemikiran ini adalah sebuah tantangan untuk pendidikan Islam pemikiran tradisional tetapi disiapkan untuk masa depan. Tetapi kalau ada orang berbicara tentang kearipan lokal sebenarnya itu adalah keinginan mempertahankan semua yang bersifat tradisional tapi disiapkan untuk digunakan untuk masa yang akan mendatang persatuan. Maka sebab itu Undang-undang hukum keluarga di Arab Timur diperbaharui.

Melakukan urbanisasi pemikiran jangan melakukan pemikiran secara ortodok itulah tantangan pendidikan Islam hari ini. Kalau tidak demikian kita menyuruh orang lain mendirikan negara sendiri . Itu sebuah kekhawatiran pemerintah dan rektor akan menyelenggarakan sertifikasi di semester satu melalui Wakil Rektor III sudah mulai menggarap ini, dan untuk mewujudkan itu semua akan berkerja sama dengan Polda, Pangdam untuk memberikan sertifikasi sehingga jika mau mengikuti ujian skripsi dengan tujuan menghindari pola-pola pemikiran yang kaku dalam Islam. Untuk saat ini yang terjadi adalah penetapan sebuah hukum tidak lepas dari kemaslahatan yang disebut dengan istilah moderasi beragama.

Wakil rektor juga menegaskan bila ada yang menggunakan cadar gunakan saja akan tetapi gunakanlah cadar tetapi hatinya moderat, pakailah jilbab tetapi hatinya moderat jangan pernah beranggapan orang itu najis, buruk, ahli neraka dan merasa sebagai pemilik ahli kebenaran. Tantangan pendidkan Islam saat ini bukan hanya di Kalimantan Barat tetapi di Indonesia melakukan agama dengan komitmen juga melakukan moderasi beragama. Berharap nantinya kalau sudah menyelesaikan study di IAIN kembali kepada tujuan kita diciptakan di muka bumi ini memiliki keyakinan dan jangan sampai dia beribadah tetapi juga menyakiti orang lain.

Wakil Rektor II ini disela-sela sebelum menutup acara tersebut menyampaikan harapannya. Terkait alumni PIAUD dan Bahasa Arab kedepannya regulasi agar bisa berpihak terhadap lulusan terutama alumni dua jurusan ini. Mengingat khusus bahasa Arab mengalami kelangkaan. Sekalipun pesantren modern belum mampu melakukan komunikasi melalui bahasa Arab harus bangga. Bahasa Arab adalah komunikasi yang bergengsi bercerita terkait pengalamannnya, sewaktu ke Arab Saudi, Iran kalau kita tidak bisa menggunakan bahasa Inggris cukup menggunakan bahasa Arab dan negara satunya-satunya yang konsisten bahasa formal hanya Sudan dan diikuti oleh Tunisia sehingga Tunis dalam konstitusinya menyebutkan bahasa Arab-bahasa resminya.

Adapun narasumber kuliah umum yang diselengarakan FTIK ini adalah Drs. H. Ridwansyah, M. Si. Selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kalimantan Barat.
Moderator oleh Eka Hendry. M.Pd.

Penulis: Abdullah
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here