Ilmu dalam Perspektif Epistemologi Barat dan Islam

0
728 views

Seminar

Pembicara dalam seminar internasional Pascasarjana IAIN Pontianak, Sabtu, 13 Juni 2015, Nirwan Syafrin, Ph.D, mengatakan, Ilmu dibangun atas landasan epistemologi, dan dibentuk oleh worldview, karena itu konstruk epistemologi setiap peradaban akan berbeda antara satu dengan yang lain.

Term Barat disini, menurutnya, tidak merujuk pada letak geografis atau geo politik, tetapi lebih pada worldview atau pandangan hidup. Secara umum, worldview bisa dimaknai sebagai perangkat konsep-konsep penting yang digunakan seseorang untuk memahami dan menginterpretasi fenomena yang ada disekitarnya.

Walaupun terdapat titik singgung, terang Nirwan, bangun epistemologi tidak bisa dikatakan sama, antara Barat dan Islam atau pun peradaban satu dengan lainnya, namun tetap terjadi perbedaan. Perbedaan itu berasal dari worldview (pandangan) Perbedaan Barat dan Islam dalam berbagai aspek sesungguhnya muncul dari dalam Bahasa Namrib al-Attas disebut sebagai konfrontasi permanen.

Worldview, dalam perspektifnya, adalah seperangkat konsep yang dimiliki sesorang yang memahami dan menginterpretasikan objek-objek yang ada disekitarnya. Konsep-konsep disini adalah termasuk konsep penting, diantaranya mengenai tuhan, wahyu, agama, ilmu, pendidikan dan lain sebagainya.

Dia menyebut, Terbentuknya epistemologi Barat modern dapat dilacak dari rentetan episode yang dikenal dengan Renaissance, Enlighttenment, dan Modernity. Fase kebangkitan (Renaissance) merupakan awal dari sejarah peradaban Barat modern pada abad 16. Istilah ini mengindikasikan bahwa Barat sebelum fase Renaissance berada pada abad “kematian” atau biasa dikenal dengan dark age.

Pada fase ini, tambahnya, benar-benar sedang mengalami kebangkitan dalam bidang seni, kesusasteraan, filsafat, sains, teknologi, agama, sosial, dan ekonomi.  Perubahan yang terjadi sangat luar biasa, memberikan efek besar dalam kehidupan masyarakat barat, terutama yang paling menonjol adalah yang terjadi pada bidang sains dan filsafat.

Dalam upaya untuk mengungkapkan dan menangkap kebenaran tentang alam, tambahnya memberi contoh, masyarakat Barat modern hanya berpegang pada pengalaman (experience) dan penelitian (observation). Metode observasi dan eksperimen inilah yang kemudian dijadikan standar metodologi saintifik.

Dalam perjalanannya, Nirwan mengungkapkan, konsep keilmuan seperti ini kemudian diperkokoh oleh mazhab positivisme yang digagas oleh Agus Comte dan diperkuat oleh lingkaran Wina (Vienna Circle) yang memunculkan mazhab pemikiran baru yang dikenal dengan positivisme logis. Jika metode ini digunakan hanya untuk ilmu alam, mungkin masih bisa dimengerti, tapi motode ini ternyata juga menjadi acuan dalam kajian keilmuan lain seperti ilmu sosial dan humaniora termasuk agama.

Dia berpendapat, disinilah awal sekularisasi ilmu, yaitu ketika ilmu dijauhkan dan dilepaskan dari ikatan wahyu. Sains yang dulunya punya hubungan erat dengan dunia metafisis, namun sejak revolusi sains, hubungan keduanya diputus total. Sain jadinya dianggap sebagai produk akal inderawi manusia semata, kebenaran diukur sejauhmana ia bisa diterima akal manusia, atau dibuktikan secara empiris, jika gagal dalam memenuhi kriteria akal dan empiris, maka dengan sendirinya dinyatakan salah.

Sedangkan, ilmu dalam konstruk epistemologi Islam, Nirwan menjelaskan, tauhid adalah fondasi dalam ajaran Islam. Mustahil ada Islam tanpa tauhid, maka dengan demikian mustahil juga ada kebaikan bisa diterima disisi Allah tanpa ketauhidan (al-Zumar: 65). Tauhid-lah esensi ajaran dan peradaban Islam, konstruk epistemologi Islam juga juga tidak bisa dilepaskan dari prinsip tauhid.

Nirwan mengatakan, setidaknya ada dua prinsip pokok epistemologi Islam yang bisa diderivasi dari tauhid. Pertama, berdasarkan tauhid, kebenaran bukanlah misteri yang sulit atau tidak bisa ditemukan. Kebenaran merupakan sesuatu yang bisa digapai oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, selama orang berkenaan memiliki inderawi dan akal sehat.

Kedua, prinsip yang bisa diderivasi dari konsep tauhid ini adalah bahwa kebenaran tidak semuanya relative, sebagian kebenaran ada yang memiliki sifat kemutlakan dan manusia dapat mengetahui kebenaran mutlak tersebut.

Jika tauhid adalah fondasi epistemologi Islam, maka syirik merupakan penyimpangan epistemologi dan kekeliruan ini sama sekali tidak bisa ditolerir (an-Nisa, 48). Allah dengan tegas menyatakan bahwa pelakunya (musyrik) adalah sesat (an-Nisa: 116) dan akan abadi di dalam neraka (al-Maidah: 72).

Begitu besar kekeliruan musyrik, Rasulullah tidak menemukan padanannya dengan kesalahan besar apapun termasuk mencuri dan berzina. Dalam salah satu hadis, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang mati dalam kondisi tauhid, masih punya harapan untuk masuk surga, meskipun dia pernah melakukan kejahatan lain seperti mencuri dan berzina (Bukhari: 5489 dan Muslim: 193).

Kenapa Islam memperlakukan tauhid sedemikian penting. Kembali dia menyatakan, tauhid adalah dasar epistemologi berpikir dan bertindak seorang muslim. Kekeliruan dalam tauhid sama dengan kekeliruan epistemologis yang sudah pasti berdampak pada kekeliruan perbuatan. Bagaimana mungkin orang bisa mempersepsikan realitas dan berbuat benar jika gambarannya mengenai Allah sebagai al-Haqq (Realitas dan kebenaran mutlak) saja keliru.

“Orang bisa saja salah dalam perbuatannya, tetapi jangan sampai salah dalam epistemologinya, karena orang yang salah dalam tataran epistemologi, sulit, bahkan tidak mugkin untuk melakukan perbaikan, selama framework tidak dibenarkan dahulu. Bagaimana seseorang mungkin memperbaiki perbuatannya jika dia sendiri tidak melihat per buatannya itu salah”, tutup Nirwan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here