PONTIANAK (iainptk.ac.id)–Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. KH. M. Nur Kholis Setiawan, MA memberikan ceramah agama pada acara Pembinaan Pegawai, Syukuran Akreditasi, dan Maulid Nabi Bersama Anak Yatim dan Parade 500 Tumpeng Daerah, Jum’at (11/01) di Auditorium Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak.

Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan DPRD Kota Pontianak, Pangdam XII Tanjungpura, Polda Kalbar, Polresta Pontianak, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalbar, Pimpinan Ormas, Pimpinan Bank, Pimpinan Pondok Pesantren. Hadir pula seluruh pejabat, sesepuh, alumni, mahasiswa, dan Keluarga Besar IAIN Pontianak.

“Baginda Rasul lahir dari orang tua dan leluhur yang selalu meninggalkan perbuatan tidak terpuji. Hal tersebut merupakan prototype dari suri tauladan yang baik dari Rasulullah SAW. Hal ini pula berlaku pada ASN. ASN harus mematuhi segala hal yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan menjauhi segala hal yang tidak diperkenankan dan dibenarkan.” papar Sekjen Kemenag.

Dalam hal ini Menteri Agama RI meminta empat hal yang perlu diperhatikan oleh setiap ASN di lingkungan Kementerian Agama RI. Empat hal tersebut antara lain: pertama, kita semua diminta mampu mengidentifikasi setiap masalah dan tantangan ataupun hambatan yang ada di lingkungan masing-masing. Kedua, harus mampu mencari jalan keluar atau solusi dari permasalahan, tantangan maupun hambatan yang ada. Ketiga, hadir sebagai pemimpin yang baik bersama komunitas yang dipimpinnya. Keempat, lakukan kesemuanya itu atas dasar cinta dan ibadah.

“Apabila kita mampu mengidentifikasi masalah, mampu mencari solusi sekaligus menghadirkan diri sebagai pemimpin yang baik, kita landasi semuanya dengan semangat ibadah. Karena apabila niatnya adalah ibadah, dengan otomatis kita akan mampu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan.” ungkapnya.

“Kita sebagai keluarga besar di Kementerian Agama baik jabatan struktural maupun fungsional mampu melakukan empat hal tadi. Agar kemudian kiprah dan pemikiran kita dapat berkontribusi bagi kemajuan dan perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara di masa yang akan datang.” terangnya.

Ia juga menyinggung persoalan paham keagamaan yang ada di Indonesia. Menurutnya akhir-akhir ini ada tantangan yang luar biasa terkait pemahaman keagamaan. Di satu sisi ada konservatif bahkan ultra konservatif sedangkan satu sisi lainnya liberal. “Kita harus waspadai bersama terkait konservatisme beragama dan liberalisme dalam beragama. Inilah tantangan yang sesungguhnya dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. PTKIN harus mampu mengembangkan paham-paham keislaman yang moderat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari bangunan NKRI yang kita cintai.”urainya.

Penulis: Septian Utut
Editor: Aspari Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here