Jakarta (iainptk.ac.id) Rabu, 15 Juli 2026 – Ada nuansa yang menarik dalam setiap kontestasi politik, tak terkecuali dalam pemilihan Rektor IAIN Pontianak masa bakti 2026-2030. Ruang itu adalah waktu-waktu yang berjalan melambat sebelum genderang seleksi resmi ditabuh di Jakarta. Di ruang inilah, kompetisi yang kerap dicitrakan kaku dan dingin, lebur dalam hangatnya rasa persaudaraan.
Di pundak para calon rektor ini, tertumpu harapan besar dari ribuan warga kampus di Jalan Suprapto, serta asa masyarakat Kalimantan Barat yang merindukan IAIN Pontianak bertransformasi menjadi mercusuar pendidikan Islam yang kian unggul. Namun, sebelum perang gagasan dimulai, ada rekaman humanis yang sarat makna.
- Langit yang Sama: Momen Keberangkatan
Perjalanan ini dimulai dari bumi Khatulistiwa. Di dalam kabin pesawat menuju Jakarta, para calon rektor duduk di bawah atap yang sama, membelah langit yang sama. Tidak ada sekat protokoler. Yang ada hanyalah percakapan ringan antarsejawat, sesekali diselingi candaan untuk mengusir sunyi. Di atas ketinggian ribuan kaki, mereka adalah musafir yang membawa misi besar: menjemput takdir terbaik untuk kampus tercinta.
- Jeda di Balik Dinding Hotel
Setibanya di Jakarta, dinamika bergeser ke lorong-lorong hotel tempat menginap. Di sinilah suasana batin para calon teruji. Di balik pintu kamar masing-masing, ada keheningan doa yang dipanjatkan dan lembaran visi-misi yang dibaca kembali. Namun, saat melangkah keluar ke koridor, ketegangan itu meluruh. Saling sapa, senyum yang dilemparkan saat berpapasan, dan anggukan hormat menjadi kode tanpa kata bahwa mereka saling menghargai isi kepala dan kebersihan niat masing-masing.
- Diplomasi di Meja Makan: Mencairkan Ketegangan
Momen makan bersama menjadi panggung paling jujur dari ukhuwah mereka. Di atas meja makan, denting sendok dan garpu beradu dengan tawa yang lepas. Di sini, pembicaraan berat tentang masa depan kampus disajikan dalam nada yang santai. Secangkir kopi yang hangat menjadi saksi bagaimana rivalitas bisa diredam oleh rasa kekeluargaan. Makan bersama ini menegaskan bahwa mereka tidak sedang bertarung untuk saling menjatuhkan, melainkan sedang bersanding untuk saling melengkapi.
- Mengantar Harapan: Penyerahan Berkas ke Panitia
Saat melangkah menuju meja panitia seleksi untuk menyerahkan berkas administrasi, suasana formal kembali terasa. Momen ini adalah gerbang pembuka secara legalitas. Setiap map dan dokumen yang diserahkan bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan manifestasi dari kesiapan lahir dan batin. Di titik ini, kompetisi resmi dimulai secara administratif, namun dilakukan dengan kepala tegak dan sportivitas yang tinggi.
- Ruang-Ruang Santai: Tenunan Masa Depan
Di sela-sela menunggu jadwal dan di ruang-ruang santai tempat para calon berkumpul, rajutan kebersamaan itu semakin erat. Mereka duduk melingkar di sofa-sofa lobi, berdiskusi tanpa sekat. Di ruang santai inilah terlihat jelas bingkai besarnya: walau kelak hanya satu nama yang akan menakhodai IAIN Pontianak, mereka semua sepakat bahwa kemajuan lembaga adalah harga mati. Kompetisi hanyalah alat, sementara pengabdian dan kemaslahatan umat adalah tujuan akhir.
Harapan di Ujung Pena
Seleksi hari pertama di Jakarta ini barulah awal. Namun, dari atmosfer kebersamaan yang tertangkap di bandara, hotel, meja makan, hingga ruang tunggu, warga kampus dan masyarakat Kalimantan Barat boleh optimis.
IAIN Pontianak tidak kekurangan pemimpin yang dewasa. Siapa pun yang terpilih nanti, ia tidak akan berjalan sendirian, sebab kompetisi ini telah diawali dengan ukhuwah yang kokoh—sebuah modal utama untuk membawa kampus menuju era keemasan 2026-2030.
Penulis : Syahrun
Editor : Bambang



