Pontianak (iainptk.ac.id) Senin, 21 September 2026 — Sejumlah mahasiswa IAIN Pontianak membagikan pengalaman dan pengetahuan tentang pendidikan inklusif dalam kegiatan bertema “Dari Keberagaman Menuju Kesetaraan: Peran Mahasiswa dalam Membangun Kampus Inklusi”. Kegiatan yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura (FKIP Untan) tersebut berlangsung di Ruang E-Learning 2–4 Universitas Tanjungpura, Minggu (20/9/2026), pukul 09.00–11.00 WIB.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan II FKIP Untan, Dr. M. Basri, M.Pd. Ratusan peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Sejumlah sosok inspiratif dihadirkan sebagai pembicara, yakni Fachrul Maulana, mahasiswa IAIN Pontianak yang juga berkiprah sebagai juru bahasa isyarat dan Ketua Yayasan Bhakti Arumi Delangga; Andi Safira Atira, mahasiswa IAIN Pontianak yang merupakan penghafal Al-Qur’an dan qariah berprestasi; serta Faliska Garsony, atlet National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalimantan Barat.
Dua mahasiswa IAIN Pontianak lainnya turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Dwi Redi Radiallah, mahasiswa Pascasarjana IAIN Pontianak sekaligus atlet NPCI Kalimantan Barat, membagikan pengalaman dan semangat juangnya dalam menempuh pendidikan sebagai mahasiswa penyandang disabilitas. Sementara itu, Chairani berbagi pengetahuan mengenai keterampilan berbahasa isyarat.
Dalam pemaparannya, Fachrul Maulana mengenalkan ragam disabilitas serta berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan lingkungan perguruan tinggi yang inklusif. Aspek tersebut meliputi aksesibilitas fasilitas, komunikasi, dan budaya, serta pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai relawan disabilitas.
“Saya bersyukur semakin banyak perguruan tinggi yang bergerak menuju kampus inklusif. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk memahami inklusi, khususnya yang berkaitan dengan ragam disabilitas,” ujar Fachrul.
Menurutnya, pembangunan kampus inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga memerlukan akses komunikasi, budaya yang ramah terhadap keberagaman, dan kesiapan sivitas akademika untuk memberikan dukungan.
Fachrul juga memperkenalkan praktik pendidikan inklusif yang telah diterapkan di IAIN Pontianak. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama target 4.5 mengenai kesetaraan akses pendidikan dan target 4.a tentang penyediaan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan ramah bagi penyandang disabilitas.
“Mahasiswa dapat mengambil peran sebagai relawan disabilitas untuk bersama-sama mewujudkan kampus inklusif. Praktik ini telah diterapkan di IAIN Pontianak sebagai bagian dari dukungan terhadap pendidikan berkualitas bagi penyandang disabilitas,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Dwi Redi Radiallah menuturkan perjalanan akademiknya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di IAIN Pontianak. Kini, ia melanjutkan pendidikan pada jenjang magister di Pascasarjana IAIN Pontianak.
“Pengalaman menyelesaikan kuliah S-1 di IAIN Pontianak diharapkan dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi teman-teman yang lain. Saat ini, saya sedang melanjutkan kuliah S-2 di Pascasarjana IAIN Pontianak,” ungkap Dwi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan penyandang disabilitas tidak hanya ditentukan oleh perjuangan individu, tetapi juga oleh lingkungan pembelajaran yang memberikan kesempatan dan dukungan secara berkelanjutan.
“Saya bersyukur selama menempuh pendidikan di IAIN Pontianak memperoleh dukungan dari Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi, dosen, tenaga kependidikan, serta rekan-rekan mahasiswa. Perjuangan ini tentu tidak mudah, tetapi keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan,” tuturnya.
Dwi berpesan agar para penyandang disabilitas tidak berhenti belajar dan memperjuangkan cita-cita. “Selama masih ada kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, dan kesempatan yang diberikan, selalu ada jalan untuk terus melangkah,” pungkasnya.
Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, M.Ud, mengapresiasi kiprah para pejuang inklusi dalam membagikan pengalaman mereka kepada masyarakat luas.
“IAIN Pontianak terus mendukung para pejuang inklusi untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di ruang publik. Fasilitas dan program yang telah tersedia masih perlu disempurnakan melalui dukungan seluruh sivitas akademika, termasuk para pejuang inklusi sendiri. Kolaborasi ini penting untuk mewujudkan IAIN Pontianak sebagai kampus inklusif,” ujarnya.
Keterlibatan mahasiswa IAIN Pontianak dalam kegiatan ini menunjukkan kontribusi nyata generasi muda dalam memperluas kesadaran mengenai kesetaraan dan hak pendidikan bagi penyandang disabilitas. Kolaborasi antarkampus tersebut juga menjadi ruang untuk saling belajar sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang aksesibel, setara, dan inklusif.
Penulis : Tim Humas
Editor : Bambang


