Direktur Diktis: Moderasi Islam Harus Militan!

0
136 views

“Moderasi Islam harus militan. Bukan saatnya lagi kita punya anggapan bahwa yang ngalah yang waras. Kalau begitu yang mendominasi bukan orang waras dong. Itu artinya kita harus militan ketika ingin mengangkat moderasi Islam. Mulai dari menyusun outline dalam bentuk buku untuk dijadikan bahan kajian di lingkungan mahasiswa PTKIN/PTKIS dan madrasah.” Hal tersebut dinyatakan Direktur Diktis Kemenag RI, Prof. Dr. Arskal Salim GP, MA saat menjadi narasumber kegiatan Forum Dekan Fakultas Ushuluddin PTKIN/PTKIS Se-Indonesia dengan tema “Peluang dan Tantangan Alumni Dalam Merajut Nilai-Nilai Kebangsaan Berwawasan Islam Moderat” yang digelar di Pontianak 19 s.d 21 April 2018 lalu.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak. Dalam kesempatan tersebut Prof. Dr. Arskal Salim GP, MA menyampaikan rasa syukur, bahagia, dan perhatiannya karena perjalanan dinas pertama di Pontianak dan menghadiri forum dekan ushuluddin pertama yang dihadiri begitu banyak peserta dari PTKIN/PTKIS Seluruh Indonesia. Namun forum ini berbeda dari forum yang pernah dihadirinya karena ada pra kualifikasi meeting yang diadakan di Yogyakarta dan Bandung, itu artinya persiapan ushuluddin memang terencana dan terorganisir. Ia mengaku bangga akan apa yang telah diupayakan oleh forum dekan ushuluddin.

Dalam penyampaiannya, Prof. Dr. Arskal Salim GP, MA mengemukakan bahwa seperti keinginan yang disampaikan oleh ketua forum untuk membuat modul atau textbook tentang pengetahun moderasi Islam. Dirinya mendukung penuh dengan rencana ini. Sejatinya, DNA PTKIN adalah Islam moderat atau moderasi Islam. Namun dalam hal ini moderasi Islam yang dimaksud harus berwujud. Jadi tidak kosong. Selama ini apa yang dimaksud moderasi Islam seperti apa yang kita inginkan dan tumbuh dalam benak kita. Dengan kehadiran tantangan dari kelompok seperti Salafi, Syiah, Tarbawi, Hanafi, Tahriri yang hadir di kalangan masyarakat, tidak menutup kemungkinan di lingkungan sivitas akademika kampus juga dipengaruhi akan hal tersebut. Oleh karena itu, tepat jika forum ini mulai menyusun modul tentang moderasi Islam.

Lebih lanjut, Ia mengungkapkan jika ada sebuah buku hasil penelitian Prof. Nur Haidi Hasan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berjudul Literatur Keislaman Generasi Milenial: Transmisi, Aprosiasi, dan Kontestasi. Buku ini mengidentifikasi bagaimana generasi milenial menyikapi dan memperoleh pendidikan Islam. Pada umumnya mereka memperoleh pendidikan Islam lewat medsos. Tidak lewat kajian-kajian. Jika nantinya forum ini ingin memasukkan moderasi Islam dalam bentuk modul atau sejenisnya, nanti pola desiminasinya harus dibiasakan pada kebiasan generasi muda saat ini salah satunya melalui medsos. Oleh karena itu, melalui forum ini kita harus melakukan kontestasi ide-ide dan gagasan dalam rangka mewujudkan moderasi Islam kekinian.

Forum ini juga harus siap untuk memikirkan segala hal yang perlu disiapkan untuk dilaksanakan. Menurutnya, kita tidak bisa tinggal diam terhadap fenomena yang ada saat ini. Seperti kasus yang terjadi di IAIN Bukittinggi yaitu ada salah satu dosen IAIN Bukittinggi yang saat mengajar memakai cadar dan menyuruh mahasiswanya untuk memasukkan beberapa orang di luar sana menjadi muallaf sebagai syarat memperoleh nilai. Ketika dosen tersebut dimintai keterangan tentang segala hal yang dilakukan saat mengajar dan menanyakan tentang gurunya, ternyata dosen tersebut sampaikan jika tidak ada guru yang menyuruh atau mengajar akan hal tersebut. Dosen tersebut mengaku jika selama ini dirinya mendapatkan ajaran dan informasi tersebut melalui website. Jika interaksi dan informasi yang didapat melalui website, maka sulit sekali membina kembali secara berkelanjutan. Oleh karena itu, dalam kasus ini kita harus mengantisipasi tersebut. Melihat kecenderungan dan fenomena yang ada saat ini, tidak hanya mahasiswa yang terpapar oleh kelompok-kelompok seperti yang disebutkan tadi, melainkan bisa jadi dosen juga dapat terpengaruh akan hal ini.

Guru Besar UIN Jakarta ini memaparkan jika di UIN Jakarta ada program yang disiapkan Lembaga Penjamin Mutu (LPM) yakni induksi terhadap dosen baru. Dalam hal ini dosen diharuskan membaca modul atau buku yang berkaitan tentang sejarah UIN Ciputat maupun Pembaharuan Islam Ciputat. Hal ini disebabkan karena ada kekhawatiran dari UIN Ciputat terhadap dosen baru khususnya dosen berlatar belakang umum yang diterima menjadi dosen di fakutas science. Dosen seperti ini biasanya tidak mengenal pembaharuan Islam Harun Nasution, Nur Cholis Madjid, Munawir Sazali dan sebagainya. Langkah ini sedianya untuk mengenalkan dosen terhadap jati diri instansi atau universitas tempatnya bekerja. Oleh karena itu dirinya berharap agar forum ini segera membuat modul moderasi Islam yang nantinya akan menjadi perekat dan disampaikan secara kolektif oleh PTKIN/PTKIS seluruh Indonesia dengan bahasa dan maksud yang sama. Maksudnya, secara teologi bagaimana itu moderat, secara tasawuf bagaimana itu moderat, secara fiqh bagaimana itu moderat, dan lain sebagainya.

Ia pun menjelaskan, melalui forum ini dirinya mengajak untuk mulai memahami dan membaca tentang apa yang diperlukan serta diinginkan oleh generasi masa kini. Menurutnya generasi milenial berkisaran umur 17-30 tidak semuanya bisa berkonsentrasi kepada teks atau buku. Akan tetapi lebih kepada visual. Namun walau begitu mereka sangat kreatif tapi tidak mudah didikte. Dalam hal ini sebenarnya gerakan moderasi Islam memiliki peluang untuk bisa ‘bersaing’ dengan kelompok-kelompok tadi. Pada hakikatnya, Islamisme Populer merupakan gerakan yang ingin tetap menjaga pemahaman pokok Tahriri, Jihadi, dan Tarbawi sekaligus juga ingin menggandeng semua nilai-nilai moderasi Islam di dalamnya. Maka dari itu, Novel Ayat-Ayat Cinta, 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan contoh yang merefleksikan terhadap Islamisme Populer tadi. Hal inilah yang seharusnya dibuat Forum Dekan Ushuluddin untuk menggabungkan keduanya sehingga menjadi moderasi Islam yang populer.

“Kita tidak perlu khawatir untuk bergandengan tangan dengan pihak manapun. Seperti yang biasa disebut Menteri Agama, PTKIN adalah etnis besar negeri. Disinilah keislaman dan keindonesiaan menyatu. Menjadi Islam adalah menjadi Indonesia, menjadi Indonesia adalah menjadi Islam. Maka dari itu kita berkepentingan untuk menjaga moderasi Islam ini. Jika ada isu dan ramalan bahwa ada Indonesia akan runtuh tahun 2030, itu harus kita lawan dan dipatahkan. Maka dari itu kita jaga moderasi Islam di Indonesia sampai kapanpun.” ujarnya.

Fakultas Ushuluddin merupakan jantung dari fakultas-fakultas yang di PTKIN ‘the Knowledge of PTKIN’. Oleh karena itu tanggung jawab ushuluddin sangat besar terkait pendidikan Islam di PTKIN/PTKIS maupun di madrasah. Tidak hanya bergantung pada Tarbiyah atau membiarkan begitu saja, namun lebih dari itu Ushuluddin harus membina dan mengawasi fakultas-fakultas lain. Dalam hal ini, kita melihat output-output alumni yang kita hasilkan masih memungkinkan dipengaruhi oleh interaksi luar khususnya di marasah atau di sekolah umum. Padahal jika dilihat kurikulum di universitasnya pemahaman moderasi Islamnya baik. Oleh karena itu tidak salah kiranya jika moderat itu harus militan demi menjaga moderasi Islam di tengah gempuran ideologi yang berkepentingan mendominasi Indonesia saat ini.

“Apa yang dilakukan oleh Menteri Agama saat ini dengan program Mengasah Jati Diri (Mengaji) Indonesia merupakan salah satu upaya moderasi Islam masa kini. Karena itulah kita juga harus melakukan dan menyeimbangi kegiatan-kegiatan yang dilakukan Menteri Agama.” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here