Pontianak (iainptk.ac.id) Kamis, 15 Oktober 2026 – Seragam dinas loreng lengkap dengan pangkat di bahu, nama di dada, dan tulisan TNI AU di dada sebelah kanan. Itulah yang dikenakan Kolonel Sus Muhammad Deni Abdullah, S.Ag saat memasuki ruang podcast Barometer Kampus. Ia kini menjabat Kepala Dinas Teritorial (Kadister) di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Supadio, Pontianak. Sebelumnya, ia pernah mengemban tugas sebagai Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Supadio, dengan pengalaman di bidang pembinaan mental dan teritorial. Tak banyak yang menyangka, perwira ini memulai langkahnya bukan dari akademi militer, melainkan dari bangku kuliah di sebuah institut agama Islam.
Sebelum melangkah ke studio, sang kolonel lebih dulu bertemu dengan Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. Kedatangannya disambut hangat. Bagi Kolonel Deni, kunjungan itu terasa istimewa: ia datang sebagai perwira TNI AU, tetapi juga sebagai alumnus perguruan tinggi keagamaan Islam yang kini kembali menginjakkan kaki di lingkungan kampus sejenis. Dari ruang rektor, ia kemudian diantar menuju ruang podcast Barometer Kampus.
Suasana studio siang itu terasa berbeda dari biasanya. “Deg-degan saya dari awal,” kata Asip, pembawa acara sambil tertawa, mengaku gugup melihat wibawa seragam yang dikenakan tamunya. Sang kolonel hanya membalas dengan senyum, sementara H. Tommy Hardiansyah, S.E., M.M., yang disapa pak Tom, sebagai Kabag TU FTIK IAIN Pontianak yang menjembatani kehadirannya, ikut menyambut hangat. Begitu obrolan bergulir, ketegangan itu cair. Tawa pecah berkali-kali, mulai dari candaan soal gigi ompong yang tak cocok jadi komandan upacara, gaya renang “gaya batu”. Di tengah canda, ucapan selamat HUT ke-81 TNI pun tak ketinggalan, disambut kata “terima kasih” dan doa “jaya selalu”.
Namun suasana bisa berubah hening dalam sekejap. Saat Kolonel Deni mulai bercerita tentang masa kecilnya, Asip mendengarkan dengan khidmat.
Ia anak bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya prajurit KKO, kini Marinir, yang wafat di usia muda sebelum sempat pensiun. Sejak kecil ia bertekad tidak membebani ibunya. Cita-citanya tumbuh dari layar televisi hitam putih yang menayangkan defile HUT TNI setiap 5 Oktober. “Saya bermimpi, bisa nggak saya berada di barisan itu,” kenangnya.
Jalan menuju ke sana tidak mulus. Empat kali ia mengikuti tes, termasuk Akabri dan Polri, dan empat kali pula belum berhasil. Ia sempat ditawari jalur tamtama Angkatan Darat, tetapi sang ibu tidak merestui. Tanpa sepengetahuannya, ibunya justru mendaftarkannya ke IAIN. “Terbersit pun tidak saya akan kuliah di IAIN,” ujarnya. Pesan ibunya singkat: yang penting negeri, jangan pikirkan biaya.
Ia menurut, dan di situlah titik baliknya. Selama kuliah, ia tidak berhenti berikhtiar. Ia menulis target hingga menjadi calon letnan dua, bahkan nekat mendatangi Mabes ABRI di Cilangkap hanya untuk mengenal markas yang ingin ia masuki. “Ikhtiar itu bukan cuma doa,” katanya. Pada percobaan keempat, ia lolos.
Bekal dari kampus agama ternyata tidak sia-sia. Selain ketekunan, ia membawa kebiasaan yang dipegangnya sampai kini: tahajud. Ia bercerita pernah meminta bantuan seorang tetangga berpangkat brigadir jenderal, tetapi justru disuruh pulang. “Ngapain menghadap manusia, tahajud dulu,” tuturnya mengenang nasihat itu. Pembawa acara pun menimpali dengan antusias, dan Pak Tom sesekali menambahkan bahwa mahasiswa IAIN juga punya bekal keahlian lewat SKPI, dari bela diri hingga selam.
Kini, setelah puluhan tahun mengabdi, ia mengemban tugas teritorial, yaitu pembinaan dan kedekatan TNI AU dengan masyarakat. Latar belakang pendidikan agama terbukti bukan penghalang. Menurutnya, sarjana agama punya peran penting di tubuh TNI, terutama dalam menjaga kekuatan mental dan rohani prajurit di tengah beban tugas yang nyaris tanpa jeda.
Tak terasa, obrolan berjalan hampir satu jam. “Rasanya kayak baru berapa menit,” ujar pembawa acara saat harus memotong pembicaraan demi menutup siaran. Menjelang akhir, nada santai berganti ajakan. Pendaftaran Perwira Prajurit Karier S1 masih dibuka hingga 20 Oktober 2026 untuk semua jurusan. “Jangan takut jurusan kita tidak dipakai,” ujarnya. Dan untuk yang pernah gagal: itu bukan gagal, hanya belum mencukupi. Ulangi lagi.
Seragam loreng itu hanya hasil akhir. Di baliknya ada empat kali percobaan, restu seorang ibu, dan keyakinan bahwa dari kampus agama pun, seseorang bisa sampai ke pangkat perwira TNI AU.
Penulis : Farli
Editor : Bambang
