IAIN Pontianak

Kuliah Umum Internasional di IAIN Pontianak Bahas Transformasi Profesi Pendidikan di Era Society 5.0

Pontianak (iainptk.ac.id) 3 November 2026 – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menyelenggarakan Kuliah Umum Internasional, bertempat di Aula Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak. Kegiatan ini mengangkat tema “Transformasi Profesi Pendidikan di Era Society 5.0: Integrasi Konselor Humanis, Praktisi Profesional Edupreneur Inovatif dalam Membangun Ekosistem Pendidikan.”

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Muhammad Saffwan Abdullah, kaunselor berdaftar sekaligus trainer PEKA Malaysia; Prof. Dr. Rianawati, M.Ag.; serta Dr. Hariansyah, M.Si.

Dalam sambutan pembukaan dari Dr. Sahrani, SE.I., M.Pd Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FTIK, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para tamu undangan yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi ilmu. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menambah wawasan, memberikan motivasi, serta meningkatkan semangat mahasiswa. Pihak fakultas juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun pelaksanaan acara.

Dalam sambutan berikutnya dari Dekan FTIK IAIN Pontianak, Prof. Dr. Muhammad Edi Knanto, S., M.Pd.,, disampaikan bahwa pelaksanaan kuliah umum ini berlangsung secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya karena narasumber kebetulan hadir di kampus sebagai pembicara dalam seminar internasional. Muhammad Saffwan Abdullah juga dikenal memiliki pengalaman sebagai konsultan dan trainer di bidang bimbingan konseling serta kesehatan mental di berbagai negara. Ia turut terlibat dalam pendampingan konseling pascabencana di Indonesia, seperti setelah tsunami Aceh serta gempa bumi di Lombok, Cianjur, dan Yogyakarta.

Pada sesi pemaparan materi, Muhammad Saffwan Abdullah membahas pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam bidang konseling. Ia menjelaskan bahwa AI memiliki tiga peluang utama, yaitu membantu edukasi psikologi, mendukung pekerjaan konselor, serta memantau kesehatan mental. Meski demikian, penggunaan AI juga memiliki tantangan, seperti keamanan data, ketepatan hasil, dan persoalan etika.

Ia menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai alat bantu dan bukan pengganti konselor. Peran konselor tetap membutuhkan empati, kepedulian, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam mendampingi individu.

Selanjutnya, Prof. Dr. Rianawati, M.Ag. menyampaikan materi mengenai transformasi profesi guru di era Society 5.0. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan menuntut guru untuk terus beradaptasi. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai konselor, pembimbing, dan pendidik yang membantu peserta didik menghadapi berbagai permasalahan.

Menurutnya, proses pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru (teacher-centered) kini mulai beralih menjadi berpusat pada peserta didik (student-centered). Oleh karena itu, guru dituntut untuk menguasai teknologi, memanfaatkan platform digital dan AI dalam pembelajaran, serta terus mengembangkan kemampuan melalui penelitian dan pembentukan karakter peserta didik.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi dan AI harus dilakukan secara bijak dengan memperhatikan keamanan data serta keakuratan informasi. Dengan demikian, guru di era Society 5.0 harus mampu menjadi tenaga pendidik yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara itu, Dr. Hariansyah, M.Si. mengawali pemaparannya dengan mengajak mahasiswa mengikuti permainan interaktif. Kegiatan tersebut melibatkan tiga orang mahasiswa sebagai peserta dengan menggunakan media sederhana berupa batu kerikil dan pasir.

Melalui permainan dan demonstrasi tersebut, narasumber berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menarik sekaligus mengajak mahasiswa memahami materi melalui pengalaman langsung. Ia menekankan bahwa secanggih apa pun perkembangan teknologi, manusia tetap memiliki keunggulan dibandingkan teknologi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas pengalaman, dan meningkatkan kreativitas.

Melalui penyampaian ketiga narasumber tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai pentingnya transformasi profesi pendidikan di era Society 5.0. Pemanfaatan teknologi dan AI perlu diimbangi dengan profesionalisme, kemampuan beradaptasi, kreativitas, serta pendekatan yang humanis.

Kegiatan Kuliah Umum Internasional ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas pengetahuan, memahami tantangan dan peluang profesi pendidikan, serta mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan dunia pendidikan di masa mendatang.

Editor : Bambang

Scroll to Top