IAIN Pontianak

Mengenal Desa Kepayang: Potensi Pertanian, Tradisi Pantulak, dan Harapan Masyarakat untuk Masa Depan yang Lebih Sejahtera

Kepayang (iainptk.ac.id) Senin, 20 Juli 2026 – Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Enggang Gading IAIN Pontianak melaksanakan kegiatan Sosial Pedesaan dengan sejumlah tokoh dan masyarakat Desa Kepayang guna menggali informasi mengenai sejarah desa, kondisi sosial, budaya, pendidikan, serta perekonomian masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Adi Sumardi, salah satu tokoh masyarakat yang telah tinggal di Desa Kepayang selama lebih dari lima puluh tahun pada (17/7/2026). Diketahui bahwa nama Desa Kepayang berasal dari buah kepayang yang dahulu banyak ditemukan di wilayah tersebut. Menurutnya, mayoritas masyarakat pada masa lalu menggantungkan hidup dari pertanian dan perkebunan karet, sedangkan saat ini sebagian besar beralih ke sektor pertanian dan perkebunan kelapa sawit.

Desa Kepayang juga memiliki tradisi dan budaya yang masih dijaga hingga saat ini. Salah satunya adalah Pantulak, sebuah tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat setempat. Dahulu terdapat patung sebagai bagian dari tradisi tersebut, sedangkan saat ini terdapat tempayan, piring, dan berbagai perlengkapan adat lainnya. Tradisi Pantulak biasanya dilaksanakan setelah musim panen atau ketika terjadi wabah penyakit. Dalam pelaksanaannya, masyarakat diwajibkan menjaga kebersihan, etika, dan norma yang berlaku. Selain itu, masyarakat Desa Kepayang juga masih melestarikan tradisi Naik Dango sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

Menurut Adi Sumardi, beberapa permasalahan yang sering dihadapi masyarakat desa antara lain gagal panen, munculnya wabah penyakit, serta musibah yang menyebabkan banyak warga meninggal dunia. Meski demikian, ia berharap Desa Kepayang dapat terus berkembang sebagai daerah yang dikenal luas, tetap menjaga kelestarian alam, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ester Kosteli, Ketua RT setempat yang sehari-hari bekerja sebagai petani sawit. Ia berharap masyarakat Desa Kepayang semakin maju, memiliki penghasilan yang mencukupi, serta mampu mempererat kerja sama antarwarga. Ia juga berpesan agar generasi muda terus semangat dalam belajar dan berkarya demi kemajuan desa.

Sementara itu, Suhardi, seorang Ketua RW yang merupakan pensiunan pegawai sejak tahun 2017, menjelaskan bahwa masyarakat setempat masih mempertahankan sejumlah tradisi adat. Salah satunya adalah kegiatan syukuran pasca panen yang dilaksanakan di sebuah bukit dengan membawa sesajen berupa ayam atau babi sebagai bagian dari tradisi masyarakat. Pada waktu yang sama juga dilaksanakan upacara adat Balala yang berkaitan dengan tradisi Pantulak.

Menurut Suhardi, selama pelaksanaan Balala terdapat aturan adat yang harus dipatuhi, salah satunya masyarakat tidak diperbolehkan keluar rumah. Jika aturan tersebut dilanggar, maka yang bersangkutan wajib memenuhi ketentuan adat yang berlaku. Ia juga menyampaikan bahwa kondisi pendidikan di Desa Kepayang cukup baik. Banyak masyarakat yang telah menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana.

Dalam bidang ekonomi, Suhardi menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani dan peternak, sementara sebagian lainnya berprofesi sebagai pegawai. Ia berpesan kepada generasi muda untuk terus menjaga alam, menghormati sesama warga, serta menghargai adat istiadat yang berlaku meskipun berasal dari suku yang berbeda.

Pandangan serupa disampaikan oleh Sulastri, seorang ibu rumah tangga yang telah menetap di Desa Kepayang selama 19 tahun. Selain mengurus rumah tangga, ia juga menjalankan usaha toko kecil. Menurutnya, Desa Kepayang mengalami berbagai perubahan, terutama dalam bidang mata pencaharian masyarakat yang dahulu banyak bekerja sebagai penyadap getah karet dan kini beralih ke sektor pertanian serta perkebunan sawit.

Sulastri menilai bahwa kondisi pendidikan di desa sudah cukup baik dengan fasilitas yang memadai. Ia mengaku jarang mendengar keluhan dari masyarakat terkait pendidikan, kecuali mengenai kegiatan ekstrakurikuler yang masih perlu ditingkatkan. Ia berharap Desa Kepayang semakin makmur, sejahtera, tenteram, dan hasil pertanian masyarakat dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan mereka.

Melalui berbagai potensi yang dimiliki, baik di bidang pertanian, budaya, maupun kehidupan sosial masyarakat, Desa Kepayang menunjukkan perkembangan yang positif. Masyarakat berharap desa ini dapat terus maju tanpa meninggalkan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur, sehingga kesejahteraan dan kelestarian lingkungan dapat terus terjaga bagi generasi mendatang.

Kontributor : UKM Mapala

Editor : Bambang

Scroll to Top