IAIN Pontianak

Muhammad Syahrun Ikuti PKN II Angkatan XXX Tahun 2026, Dorong Transformasi Tata Kelola Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Pontianak melalui BOMBASTIS

Pontianak (iainptk.ac.id) Kamis, 24 September – Muhammad Syahrun, SE., MM., dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX Tahun 2026 yang dilaksanakan secara bertahap mulai 4 Agustus hingga 4 Desember 2026. Rangkaian pendidikan dan pembelajaran dilaksanakan secara Daring, sedangkan tahapan ujian dan evaluasi akhir dilaksanakan secara luring (offline) pada penghujung rangkaian PKN II.

PKN Tingkat II merupakan bagian dari proses pengembangan kompetensi kepemimpinan bagi pejabat pimpinan tinggi dan pejabat yang dipersiapkan untuk mengemban peran strategis dalam organisasi pemerintahan. Dalam prosesnya, peserta tidak hanya memperoleh pembelajaran konseptual, tetapi juga diarahkan untuk mampu melakukan diagnosis organisasi, mengidentifikasi permasalahan strategi, merumuskan solusi, membangun kolaborasi, serta menghasilkan proyek perubahan yang dapat memberikan manfaat nyata bagi organisasi.

Bagi Muhammad Syahrun, proses PKN II menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai persoalan tata kelola yang dihadapi organisasi sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan transformasi IAIN Pontianak ke depan.

“PKN II tidak hanya memberikan pembelajaran tentang kepemimpinan, tetapi juga mendorong peserta untuk melihat persoalan organisasi secara lebih sistematis. Kita belajar bahwa perubahan harus dimulai dari persoalan nyata, kemudian dirumuskan solusinya, membangun kolaborasinya, dan yang paling penting adalah memastikan perubahan tersebut memberikan dampak bagi organisasi,” ujar Muhammad Syahrun.

Membawa Gagasan Perubahan untuk IAIN Pontianak

Dalam rangkaian PKN II tersebut, Muhammad Syahrun menyusun Proyek Rancangan Perubahan (RPP) dengan gagasan BOMBASTIS, kepanjangan dari Borderland Orchestration of Mobility-Based Academic & Student Talent Integration System.

BOMBASTIS dirancang sebagai model transformasi tata kelola potensi IAIN Pontianak untuk memperkuat Academic Border Belt. Gagasan ini berangkat dari pemikiran bahwa IAIN Pontianak sebenarnya telah memiliki berbagai sumber daya dan potensi, baik berupa mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, program studi, unit kerja maupun jejaring kerja sama nasional dan internasional.

Tantangannya adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dapat terhubung dan diorkestrasi sehingga tidak berjalan secara sektoral, tetapi menjadi bagian dari satu ekosistem yang saling mendukung.

Dalam rencana tersebut, BOMBASTIS tidak ditempatkan sekadar sebagai aplikasi atau sistem digital. Transformasi justru dimulai dari tata kelola, proses bisnis, data, kemitraan dan kolaborasi , kemudian didukung dengan platform digital.

Prinsip yang digunakan adalah:

Tata Kelola → Proses → Data → Platform → Digitalisasi.

Dengan pendekatan tersebut, BOMBASTIS diarahkan untuk menghubungkan potensi internal IAIN Pontianak dengan potensi kawasan perbatasan serta jaringan mitra strategis di kawasan Kalimantan.

Secara operasional, model ini dikembangkan melalui lima tahapan utama, yaitu:

Pemetaan → Pencocokan → Penghubungan → Mobilisasi → Dampak.

Artinya, pengorganisasian terlebih dahulu memetakan potensi, kemudian mencocokkannya dengan kebutuhan dan peluang, menghubungkan para pihak, menggerakkan mobilitas dan kolaborasi, hingga menghasilkan dampak yang dapat diukur.

Fokus pada Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama

Salah satu perhatian utama dalam gagasan BOMBASTIS adalah pengelolaan kemahasiswaan .

Menurut Muhammad Syahrun, pengembangan mahasiswa perlu dilihat sebagai suatu siklus yang berkesinambungan, mulai dari penerimaan mahasiswa baru, PBAK, proses pembelajaran, pengembangan minat dan bakat, organisasi kemahasiswaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kompetisi, mobilitas hingga alumni.

“Mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai administrasi data. Mereka memiliki potensi, talenta, pengalaman dan jejaring yang perlu disimpan dan dikembangkan sejak awal sampai setelah mereka menjadi alumni,” jelasnya.

Oleh karena itu, BOMBASTIS juga diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara data mahasiswa dan talenta, pengembangan kompetensi, peluang mobilitas, jejaring alumni dan kebutuhan kerja sama .

Alumni juga ditempatkan sebagai salah satu aset strategi. Jejaring alumni dapat dikembangkan tidak hanya sebagai data lulusan, tetapi juga sebagai sumber informasi, mentor, jejaring profesional, mitra kegiatan dan penghubung kerja sama.

Di sisi lain, data kerja sama juga perlu dikembangkan dari sekadar daftar MoU atau PKS menjadi informasi strategi mengenai siapa mitranya, apa potensinya, program apa yang dapat dikembangkan, siapa yang dapat terlibat, bagaimana status kerja samanya, serta apa hasil dan dampaknya bagi institusi .

Memanfaatkan Posisi Strategis Kawasan Perbatasan

Gagasan BOMBASTIS juga memiliki keterkaitan erat dengan geografis IAIN Pontianak di Kalimantan Barat yang berdekatan dengan kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia.

Kawasan perbatasan tidak dipandang hanya sebagai wilayah geografis, tetapi sebagai ruang yang dapat dikembangkan menjadi ruang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran budaya, mobilitas, pemberdayaan ekonomi dan kerja sama internasional .

Dalam jangka panjang, BOMBASTIS diarahkan untuk membangun Academic Border Belt, yaitu ekosistem akademik dan kemitraan yang menghubungkan IAIN Pontianak dengan kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Sarawak Malaysia dan Brunei Darussalam. Rancangan tersebut selanjutnya diarahkan pada penguatan posisi IAIN Pontianak sebagai Academic Border Hub .RPP KAK Jadi_SYAHRUN_BOMBASTIS(…

“Posisi perbatasan harus kita lihat sebagai peluang. Perbatasan bukan hanya tempat lintas orang dan barang, tetapi juga dapat menjadi ruang lintas ilmu pengetahuan, talenta, budaya, penelitian, pengabdian dan kerja sama,” katanya.

Memerlukan Dukungan dan Kolaborasi Semua Pihak

Muhammad Syahrun menegaskan bahwa BOMBASTIS tidak dapat berjalan apabila hanya menjadi proyek atau program satu orang maupun satu unit kerja.

Menurutnya, perubahan tata kelola memerlukan dukungan pimpinan dan kolaborasi seluruh unsur IAIN Pontianak, termasuk dosen, program studi, unit kerja, pengelola kemahasiswaan, pengelola kerja sama, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa dan alumni.

Pihak eksternal juga memiliki peran penting, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, mitra dunia usaha, lembaga masyarakat serta mitra internasional, khususnya yang berada dalam jejaring kawasan perbatasan.

“BOMBASTIS bukan mengambil alih fungsi unit yang sudah ada. Justru yang ingin dibangun adalah mekanisme yang menghubungkan seluruh potensi tersebut agar bekerja lebih terintegrasi. Oleh karena itu, keberhasilannya sangat membutuhkan dukungan dan kolaborasi semua pihak,” tegasnya.

Rancangan tersebut menempatkan perubahan dalam beberapa tahapan, mulai dari penguatan tata kelola, pembangunan strategi data, aktivasi ekosistem kemitraan dan mobilitas, digitalisasi serta pelembagaan , hingga pengembangan Academic Border Belt dalam jangka panjang. Dalam rencana tersebut, BOMBASTIS pada akhirnya diharapkan tidak lagi menjadi proyek perubahan individu, tetapi berkembang menjadi bagian dari mekanisme tata kelola institusi.RPP KAK Jadi_SYAHRUN_BOMBASTIS(…

Dari Proyek Perubahan Menjadi Gerakan Bersama

Bagi Muhammad Syahrun, substansi terpenting dari RPP BOMBASTIS bukanlah membangun sebuah aplikasi baru, melainkan mengubah cara organisasi mengelola potensi yang sebenarnya sudah dimiliki .

“Perubahan yang ingin dibangun sederhana: dari potensi menjadi data, dari data menjadi peluang, dari peluang menjadi kolaborasi, dari kolaborasi menjadi mobilitas, dan dari mobilitas menjadi dampak,” ungkapnya.

Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi salah satu kontribusi dalam memperkuat tata kelola IAIN Pontianak, khususnya dalam pengelolaan kemahasiswaan, pengembangan talenta, pemanfaatan jejaring alumni dan penguatan kerja sama.

Dalam jangka panjang, BOMBASTIS diharapkan mampu mendorong terbentuknya ekosistem yang menghubungkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, unit kerja, mitra dan kawasan perbatasan dalam satu ekosistem kolaboratif.

“Pada akhirnya, yang kita bangun bukan hanya sistem, tetapi ekosistem. Kita ingin IAIN Pontianak semakin mampu menghubungkan potensi yang dimiliki, menggerakkan kolaborasi dan menghasilkan dampak bagi institusi serta masyarakat,” tutupnya.

BOMBASTIS — Mencatat Potensi, Menggerakkan Kolaborasi, Menghasilkan Dampak.

 

Scroll to Top