Pontianak (iainptk.ac.id) Senin, 31 Agustus 2026 – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., menjadi pemateri pertama dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Pontianak 2026. Dalam materinya, Rektor menyampaikan visi, misi, serta core value yang harus menjadi pegangan sivitas akademika, khususnya mahasiswa baru.
Mengawali materi, Prof. Wajidi menjelaskan bahwa IAIN Pontianak memiliki empat visi utama. Namun, salah satu fokus terbesar kepemimpinan saat ini adalah transformasi IAIN Pontianak menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
Menurutnya, transformasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan kelembagaan agar IAIN Pontianak dapat membuka peluang akademik yang lebih luas. Ia menjelaskan, sejumlah program studi yang bersifat umum memiliki peluang pengembangan yang besar apabila kampus telah bertransformasi menjadi universitas. “Kalau masih institut, sangat terbatas,” jelasnya di hadapan peserta PBAK.
Ia menegaskan, transformasi menuju UIN bukan sekadar perubahan status kelembagaan. Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya berkaitan dengan ketersediaan lahan. Lokasi perguruan tinggi yang akan menjadi UIN, menurutnya, harus memiliki luas minimal 10 hektare, bahkan dapat lebih luas sesuai kebutuhan pengembangan kampus.
Namun, Prof. Wajidi menekankan bahwa perubahan status saja tidak cukup. UIN yang akan dibangun harus memiliki ciri khas dan keunggulan yang membedakannya dari perguruan tinggi lainnya.
“Bukan hanya alih status tetapi harus punya ciri khas yaitu unggul,” tegasnya.
Keunggulan tersebut, tidak hanya diukur dari sisi akademik. Kampus harus mampu menghadirkan keunggulan dalam akademik, pelayanan, dan kontribusi kepada masyarakat.
Selain membahas arah transformasi kelembagaan, Rektor juga menekankan pentingnya membangun budaya kampus yang mencerminkan nilai-nilai positif. Ia berharap seluruh warga kampus dapat menciptakan lingkungan yang ramah serta menjunjung tinggi integritas.
Menurutnya, perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab yang lebih luas dalam membentuk manusia berilmu sekaligus berkarakter.
Ia mengutip semangat yang terkandung dalam Al-Qur’an bahwa belajar agama bukan sekadar memperoleh pengetahuan secara permukaan, tetapi harus dilakukan secara mendalam. Hal tersebut menjadi salah satu alasan penting hadirnya perguruan tinggi keagamaan Islam.
Ilmu yang diperoleh mahasiswa, kata Prof. Wajidi, tidak boleh berhenti di ruang kelas. Setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke tengah masyarakat, ilmu tersebut harus dapat disampaikan dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Setelah kembali ke masyarakat, seseorang yang telah menuntut ilmu bisa menyampaikan kepada masyarakat,” pesannya.
Lebih jauh, ia mendorong para mahasiswa agar memiliki kemampuan untuk bersaing dalam dunia yang semakin terbuka. Sarjana IAIN Pontianak diharapkan tidak hanya mampu menunjukkan kemampuan di lingkungan sendiri, tetapi juga memiliki kompetensi untuk bersaing di tingkat global.
“Jangan hanya jago di kandang sendiri,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Wajidi kembali menegaskan lima prinsip yang sebelumnya ia sampaikan dalam sambutan pembukaan PBAK. Lima prinsip tersebut menjadi core value yang penting untuk dipegang mahasiswa selama menjalani kehidupan akademik di IAIN Pontianak.
Lima modal yang harus dimiliki yaitu pertama, iman dan integritas. Kedua, ilmu dan budaya membaca. Ketiga, keterampilan. Keempat, modal jejaring atau networking. Kelima, mental dan daya jual.
Lima pesan tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa baru untuk menjalani proses pendidikan dengan semangat belajar, keberanian, ketekunan, serta tetap menjunjung tinggi integritas dan adab.
Bagi Prof. Wajidi, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai dan gelar akademik. Lebih dari itu, mahasiswa harus mempersiapkan diri agar memiliki ilmu, karakter, keterampilan, serta kemampuan memberikan manfaat setelah kembali ke masyarakat.
Sebelum mengakhiri materi, Prof. Wajidi mengajak seluruh peserta PBAK untuk mengingat kembali tujuan utama menuntut ilmu, yakni agar ilmu yang diperoleh dapat memberikan kemanfaatan.
Ia kemudian mengajak seluruh peserta membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:
“Ya Allah, berilah kemanfaatan terhadap ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Ajarkanlah kepada kami, ya Allah, terhadap apa yang bisa memberi kemanfaatan kepada kami. Ajarkanlah kepada kami, ya Allah, apa yang bisa memberikan kemanfaatan kepada kami.”
Doa tersebut kemudian diikuti secara bersama-sama oleh seluruh peserta PBAK.
Momen tersebut menjadi penutup yang penuh makna dari materi pertama PBAK IAIN Pontianak 2026. Pesan Rektor tidak hanya mengarahkan mahasiswa untuk memahami masa depan kelembagaan kampus, tetapi juga mengingatkan bahwa transformasi kampus harus berjalan beriringan dengan transformasi diri mahasiswa—menjadi insan berilmu, berintegritas, beradab, adaptif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis: Erika
Editor : Bambang



