Pontianak (iainptk.ac.id) Kamis, 13 Agustus 2026 — Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.A., menggelar pertemuan bersama sejumlah tokoh besar di Ruang Rapat Rektor IAIN Pontianak, Kamis (13/8/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan ekoteologi sebagai salah satu upaya membangun kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan melalui perspektif keagamaan.
Turut di undang Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Ketua FKUB Kalbar, Ketua MUI Kalbar, Ketua PGI Kalbar, Ketua KWI/Keuskupan Agung/Pengurus FKUB dari unsur Katolik, Ketua WALUBI Kalbar, Ketua PHDI Kalbar dan Ketua Matakin Kalbar
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Wajidi menyoroti pentingnya kembali menghidupkan perhatian terhadap ekoteologi, khususnya melihat kondisi lingkungan yang terjadi di Kalimantan Barat. Menurutnya, ekoteologi menjadi isu yang penting untuk terus dikembangkan karena memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai agama dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Ia menambahkan bahwa penguatan ekoteologi juga sejalan dengan salah satu program yang menjadi perhatian Menteri Agama. Oleh karena itu, IAIN Pontianak dinilai memiliki peran strategis untuk mengambil langkah nyata dalam mengembangkan kajian dan gerakan ekoteologi di tengah masyarakat.
Sebagai langkah awal, Prof. Wajidi mengusulkan penyelenggaraan seminar mengenai ekoteologi dengan melibatkan berbagai tokoh dan elemen masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara agama, manusia, dan kelestarian lingkungan.
Selain seminar, IAIN Pontianak juga membuka peluang untuk membangun kerja sama melalui nota kesepahaman atau MoU dengan berbagai majelis dan tokoh agama. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas dampak program sekaligus memperkuat sinergi antarberbagai pihak.
“Harapan kami, kita dapat membangun MoU kepada semua majelis atau tokoh besar untuk menunjang perubahan kami ke skala universitas,” jelasnya.
Menurut Prof. Wajidi, rencana penguatan ekoteologi tersebut juga tidak terlepas dari visi IAIN Pontianak dalam menyongsong transformasi menjadi universitas. Perubahan tersebut nantinya diharapkan dapat menjadikan kampus sebagai ruang yang mampu menaungi keberagaman, baik dari sisi keilmuan maupun perspektif keagamaan.
“Karena setelah menjadi universitas, kami akan menampung semua keberagaman itu di sini,” tambahnya.
Ke depan, Prof. Wajidi berharap seluruh pihak dapat terus membangun budaya saling mengingatkan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Perspektif dari berbagai tokoh agama juga dinilai penting untuk memperkaya cara pandang masyarakat terhadap ekoteologi berdasarkan nilai dan ajaran agama masing-masing.
Melalui pertemuan tersebut, IAIN Pontianak menegaskan komitmennya untuk membuka ruang kolaborasi dengan berbagai tokoh dan lembaga dalam mengembangkan ekoteologi. Upaya ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda akademik, tetapi juga berkembang menjadi gerakan bersama dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan di Kalimantan Barat.
Penulis : Aditya
Editor : Bambang


