IAIN Pontianak

UKM Mapala Enggang Gading, Komsan, dan Pramuka Kolaborasi Teater Soroti Karhutla Kalbar di PBAK IAIN Pontianak 2026

Pontianak (iainptk.ac.id) Jumat, 4 September 2026 – Unit Kegiatan Mahasiswa/Unit Kegiatan Khusus (UKM/UKK) Mapala Enggang Gading, Komunitas Santri (Komsan), dan Pramuka IAIN Pontianak berkolaborasi menampilkan drama bertema persoalan lingkungan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan Barat dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) hari kedua, Selasa (1/9/2026).

Penampilan tersebut menjadi ruang bagi ketiga organisasi untuk menyampaikan pesan kepedulian terhadap kondisi lingkungan Kalimantan Barat. Kolaborasi ini juga menjadi upaya mempererat silaturahmi serta membangun hubungan kerja sama antar-UKM/UKK di lingkungan IAIN Pontianak.

Salah satu anggota Komunitas Santri, Abdul Karim, mengatakan gagasan kolaborasi tersebut berangkat dari keresahan terhadap berbagai pandangan yang kerap melekat pada lingkungan tempat tinggal mereka. Menurutnya, kolaborasi itu membuktikan bahwa mahasiswa tetap mampu menghasilkan karya tanpa menjiplak karya pihak lain.

Ia menjelaskan, konsep penampilan mengangkat isu karhutla yang menyebabkan cuaca dan udara di Kalimantan Barat terasa semakin panas. Melalui drama, para mahasiswa berusaha mengajak mahasiswa baru menyadari bahwa karhutla merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. “Tujuannya cukup sederhana, yaitu menyadarkan kawan-kawan agar tidak membakar hutan secara berlebihan dan terus melestarikan alam,” katanya.

Ketua Umum Mapala Enggang Gading, Rahmadani Sapitri, mengatakan penampilan tersebut turut menyampaikan pesan bahwa kondisi tanah yang dipijak masyarakat Kalimantan sedang tidak baik-baik saja. “Walaupun kami berada di organisasi yang berbeda, kami tetap bisa bersatu dengan tujuan yang sama. Kami ingin menunjukkan bahwa tempat tinggal dan tanah yang kita pijak sedang tidak baik-baik saja,” ucap Rahmadani.

Pementasan kemudian dipadukan dengan aksi teatrikal dari para anggota organisasi. Salah satu bagian yang ditampilkan adalah penurunan banner bertuliskan “Pray for Kalimantan” sebagai simbol keprihatinan terhadap persoalan karhutla dan kerusakan lingkungan di Kalimantan.

Rahmadani menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut ditujukan kepada mahasiswa baru agar tidak hanya mencintai alam dengan menikmatinya, tetapi juga ikut menjaga dan merawatnya. “Alam kalau hanya dicintai dan dinikmati tanpa dijaga serta dirawat akan tetap rusak. Karena itu, mari selalu melestarikan alam, hutan, dan lingkungan sekitar agar Kalimantan tetap menjadi paru-paru dunia,” ujarnya.

Ketua UKK Pramuka, Rizky Maulana, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan kegiatan pertama yang dilakukan Mapala Enggang Gading, Komunitas Santri, dan Pramuka dalam rangkaian PBAK. Menurutnya, kerja sama itu berawal dari ajakan Komsan untuk membangun kekeluargaan melalui sebuah penampilan bersama. “Dalam kolaborasi ini, kami berupaya menyatukan Mapala, Komsan, dan Pramuka untuk membangun hubungan baik antarorganisasi di masa mendatang,” kata Rizky.

Sementara itu, Siti Julhijah dari UKK Pramuka menjelaskan bahwa konsep penampilan mulai dirancang pada Rabu dan Kamis, kemudian disepakati pada Jumat. Latihan bersama dimulai pada Sabtu malam hingga persiapan akhir menjelang penampilan. “Total waktu persiapannya kurang lebih empat sampai lima hari,” ujar Siti.

Keterbatasan waktu dan jumlah anggota menjadi tantangan utama dalam mempersiapkan penampilan. Beberapa anggota tidak dapat mengikuti latihan karena memiliki kesibukan lain, sehingga hanya sebagian anggota yang hadir dalam proses latihan. Meski demikian, para anggota dari ketiga organisasi tetap berusaha membangun kekompakan dan menyatukan konsep. Rahmadani menilai kerja sama tersebut memberikan dampak positif karena setiap organisasi dapat saling mengenal karakter, cara kerja, serta kelebihan masing-masing.

Ke depannya, kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan PBAK. Rizky berharap Mapala Enggang Gading, Komunitas Santri, Pramuka, serta UKM/UKK lainnya dapat kembali bekerja sama dalam kegiatan sosial, pendidikan, organisasi, maupun kegiatan kemahasiswaan lainnya. “Harapannya, kolaborasi berikutnya bisa terlaksana dengan lebih baik, tidak hanya dalam PBAK, tetapi juga pada kegiatan-kegiatan lain,” tutur Rizky.

Melalui penampilan tersebut, ketiga organisasi tidak hanya memperkenalkan potensi UKM/UKK kepada mahasiswa baru, tetapi juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan dan kondisi karhutla di Kalimantan Barat.

Kontributor : Ormawa IAIN Pontianak
Editor : Bambang

Scroll to Top