IAIN Pontianak

Ngopi di Bawah Pohon, Rektor IAIN Pontianak Bicara Adab Santri

Pontianak (iainptk.ac.id) – Pagi di halaman gedung Rektorat IAIN Pontianak terasa lain dari biasanya. Cuaca yang bersahabat, kabut asap yang berbulan-bulan menyelimuti kota berangsur pulih, dan tim Humas dalam Program Podcast Barometer Kampus memutuskan keluar dari studio untuk mencari suasana baru. Di halaman kampus yang dikelilingi pepohonan rindang, obrolan bertema Hari Santri pun dimulai dengan judul “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

Naramsumbernya Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. Begitu secangkir kopi diantar ke meja, beliau langsung berseloroh. “Ngopi itu artinya ngobrol perkara iman dan ilmu. Kalau cuma minum tanpa ngobrol ilmu, kurang pas,” katanya sambil tertawa. Suasana pun cair sejak menit-menit awal.

Dalam bingkai kamera, suasananya sederhana namun hangat. Dua kursi dihadapkan berhadapan di halaman gedung, dengan latar gedung Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan serta pohon-pohon rindang di kiri dan kanan.

Di sisi kiri, Asip, pembawa acara Barometer Kampus, duduk agak condong ke depan dengan sebuah tablet di tangan, tampak bersemangat melempar pertanyaan. Ia mengenakan peci hitam, baju koko putih berpanel abu-abu, dan sarung bermotif biru.

Di sisi kanan, Rektor duduk tenang dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Berkacamata, berpeci hitam, berbaju koko putih, dan bersarung hijau yang senada dengan identitas kampus hijau, beliau berbincang sambil tersenyum tipis. Di antara keduanya, sebuah meja kecil bertaplak renda memuat botol air mineral dan bendera Merah Putih mini yang berdiri di vas bunga merah muda.

Obrolan dibuka dengan pertanyaan paling dasar: apa sebenarnya arti kata santri? Menurut Rektor, ada beberapa teori. Salah satunya menyebut kata itu berasal dari bahasa Sansekerta, sastri, yakni orang yang berusaha mempelajari dan memahami isi kitab suci. Karena kitab suci umat Islam adalah Al-Qur’an dan hadis, santri wajib menguasai ilmu alat, mulai dari nahwu, sharaf, hingga bahasa Arab, agar bisa memahami kandungannya. “Kalau sekarang tinggal buka AI,” katanya, disambut tawa pembawa acara.

Sebagai penghargaan negara, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri. Rektor memandang penetapan itu sebagai apresiasi atas jasa para ulama yang memimpin perjuangan lewat pondok pesantren.

Pembawa acara menyinggung anggapan bahwa santri hanya belajar kitab kuning dan akan tertinggal di era teknologi. Rektor menjawab bahwa kekuatan santri terletak pada karakternya. Ia menyebut ciri santri yang bisa menguatkan negeri: religius, berintegritas atau beradab, haus ilmu, adaptif, dan optimis.

Dari semuanya, adab mendapat tempat paling tinggi. “Negeri kita ini tidak kekurangan orang pintar. Tapi siapa yang membocorkan kekayaan negara? Rata-rata orang pintar juga,” ujarnya. Adab, kata beliau, berbeda dari moral yang bisa terlihat dan direkayasa dari luar. Adab lahir dari hati. Karena itu, “ketika ada orang pintar bukan main tetapi kurang ajar, itu sebenarnya rendah.”

Rektor mencontohkan Iblis. Pengetahuannya luar biasa, tetapi ia diusir dari surga bukan karena bodoh, melainkan karena sombong dan tidak tahu menempatkan diri. Itulah sebabnya, dalam tradisi pesantren, yang pertama ditanamkan kiai kepada santri adalah adab, sebelum ilmu.

“Bagi saya tidak ada cerita santri yang melarat, tidak ada santri yang sengsara,” tegas Rektor. Alasannya, santri terbiasa beradaptasi. Ia tahu bersikap kepada guru, kepada orang yang lebih tua, kepada pemerintah, hingga kepada orang tua santri. Siapa yang selalu menyusahkan orang lain, katanya, akan disusahkan oleh banyak hal. Sebaliknya, siapa yang membuat orang lain bahagia, Allah akan membukakan jalan seluas-luasnya.

Soal semangat belajar, beliau memakai perumpamaan keran air. Ilmu dan berkah mengalir seperti air, ada yang deras, ada yang menetes, tergantung kondisi keran. Para kiai berpesan agar santri tidak berhenti pada satu guru. “Makin banyak guru, makin banyak saluran turunnya rahmat dan berkah Allah.” Beliau sendiri pernah membaca satu kitab yang sama kepada lebih dari tiga kiai kampung. Salah satu gurunya masih sehat di usia 80-an. “Semangat belajar itu tidak pernah berhenti,” katanya.

Ketika ditanya bagaimana nilai pesantren dibawa ke perguruan tinggi, Rektor menunjuk Ma’had al-Jami’ah yang berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk. Di kelas, mahasiswa mengasah intelektualitas. Di ma’had, spiritualitas mereka digembleng. Perpaduan itu menurutnya melahirkan kemampuan moral yang utuh. Beliau menyebut ma’had sebagai “bengkel rohani” bagi mahasiswa sebelum naik ke semester berikutnya.

Beliau juga menyebut para dosen IAIN Pontianak, dari profesor hingga lektor, rata-rata alumni pesantren. “Sesungguhnya banyak kiai. Cuma kalau datang ke kampus tidak pakai kopiah dan sorban, nanti kesannya beda,” ujarnya. Jiwa kesantrian itu, katanya, tetap hidup dan diwariskan kepada mahasiswa. Rektor juga merendah. “Kami bukan orang pintar secara intelektual. Tapi karena selalu dekat dengan ulama dan dikelilingi orang-orang baik, kebaikan itu menular.”

Menjelang akhir, pembawa acara menitipkan pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua calon mahasiswa. Bagaimana kalau anak belum pernah mondok? Rektor menegaskan agar tak ada keraguan. Mahasiswa IAIN Pontianak mendapat bekal ilmu agama dan ilmu umum sekaligus, dengan nilai spiritual yang tetap dibangun di fakultas mana pun. “Bapak dan ibu yang menitipkan amanah anaknya ke kami, Insya Allah mereka dapat dua, dunia dan akhirat.”

Obrolan ditutup dengan doa agar Indonesia sejuk seperti teduhnya pagi itu, tanpa keributan, tanpa konflik, dan tanpa bakar lahan. Di halaman kampus yang teduh itu, obrolan pagi menyisakan pesan sederhana di Hari Santri: ilmu boleh setinggi langit, tetapi adab tetap yang utama.

Penulis : Farli

Editor : Bambang

Scroll to Top